Hildaw’s Blog
Blog berisi sharing, tulisan, dan ide

Sep
01
Hakata Station

HakataS tation


Selama di Jepang, saya beberapa kali naik kereta api. Pengalaman pertama adalah naik kereta api lokal, dari Katakyushu ke Kurosaki. Keretanya mirip dengan model KRL di Jakarta. Keretanya sudah tua, tetapi masih terawat dengan baik.

Tiket dibeli di mesin penjual tiket. Katakyushu-Kurosaki ongkosnya 160 Yen. Sesudah itu tiket dimasukkan ke suatu mesin di pintu masuk, dan palang akan membuka. Tiket kita akan dilubangi, dan kita harus mengambil kembali tiket tersebut. Langkah selanjutnya adalah mencari jalur kereta tujuan. Sebenarnya jalur tujuan kita sudah tertulis dengan jelas dalam display. Hanya saja dalam huruf kanji, sehingga agak susah membacanya. Jika bingung, silakan bertanya kepada petugas di sana, tentu saja dengan bahasa Jepang.

Jika sudah ketemu jalur yang tepat, saatnya menanti kedatangan kereta. Orang Jepang biasanya antri dengan rapi di area yang nantinya pas di depan pintu masuk. Keretanya akan berhenti pas di depan area itu. Idenya sederhana, tapi kok di Indonesia tidak dijalankan ya?

Naik kereta seperti biasa sampai stasiun tujuan. Jika akan keluar dari stasiun, tiket kita harus dimasukkan ke mesin yang mirip di pintu masuk, dan tiket akan ditelan oleh mesin. Jangan sekali-kali tidak memasukkan tiket, misalnya dengan mengikuti orang yang ada di depan kita, karena di pintu masuk dan keluar ada petugas. Mereka berada di dalam post, akan tetapi memperhatikan apa yang kita lakukan.

Selain kereta lokal, ada juga kereta express. Misalnya : kamome dan Shinkansen. Jarak yang ditempuh sudah antar kota, dan sangat cepat.

Kamome yang Cantik (dari koleksi pak Irfan)

Kamome yang Cantik (dari koleksi pak Irfan)

Saya sempat 4 kali naik Kamome, yaitu saat menuju kota Nagasaki dan kota Fukuoka. Pengalaman pertama yang sulit dilupakan adalah saat pergi ke Nagasaki. Biaya naik Kamome dari Saga ke Nagasaki sebesar 5000 yen, pulang pergi. Cukup mahal. Jarak yang ditempuh cukup jauh, sekitar 1.5 jam. Kami sibuk bertanya tentang jadwal kereta, biaya, objek wisata apa saja yang bisa dikunjungi, cara mencapai objek itu, dll. Pokoknya heboh sekali. Maklumlah biayanya sangat besar dan jauh, jadi ada rasa kuatir. Pada perjalanan kedua di Fukuoka, semuanya sudah cuek, bahkan jadwal kereta baru diketahui 30 menit sebelum berangkat.

Di dalam Kamome

Di dalam Kamome

Aug
31

Tenjin ini semacam Jl. Sudirman kota Jakarta. Di sini dijumpai banyak sekali mall. Bahkan ada mall bawah tanah segala. Kami sempat muter-muter ke mallnya, tapi rasanya kurang menarik, karena harganya sangat fantastis alias mahal sekali.

Setelah menemukan makanan untuk berbuka, kami menuju ke sebuah taman. Malam ini di taman tersebut sedang diadakan acara. Beberapa tenda didirikan. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang memakai kimono duduk-duduk di kursi taman, menunggu acara dimulai. Pada awalnya kami mengira akan ada pertunjukkan layar tancep. Seru juga ya, kalau memang benar. Ternyata yang muncul lebih seru lagi, yaitu pertunjukkan gendang, dimainkan oleh tim, sekitar 10 orang. Pemainnya ada yang perempuan 2 orang, yang sangat cantik dan lincah. Mereka memainkan sekitar 5 lagu. Acara selanjutnya adalah menari bersama dengan ibu-ibu, bapak-bapak, dan remaja putri yang memakai kimono. Para penonton diajak menari juga, termasuk kelompok kami. Beberapa dari kami ikut menari. Rasanya senang banget…

Tenjin show(dari koleksi pak Irfan)

Tenjin show(dari koleksi pak Irfan)


Kami tidak melanjutkan mengikuti acara karena hari sudah malam, dan melanjutkan perjalanan ke objek selanjutnya, yaitu Canal City.

Aug
30

Mengunjungi Fukuoka serasa mengunjungi Jepang, maksudnya sesuai dengan bayangan kami tentang sebuah kota di Jepang, yang sangat sibuk. Bagaimana ya susana kota Tokyo? Apakah seramai Fukuoka? Perkiraanku sih tentunya lebih ramai lagi.

Perjalanan dimulai dengan mengunjungi sebuah mall bernama Yodobashi. Mall tersebut menjual peralatan elektronik, mainan, dan jam tangan. Peralatan elektronik kurasa tidak menarik, mengingat harga dan juga ukurannya. Pengin sih punya video camcorder. Tapi belum menemukan spesifikasi yang tepat. Jadi sabar ya..

Dari sini kami menuju ke stasiun bis. Sebelumnya kami singgah dulu ke toko yang menjual pernak-pernik. Kami kemudian naik Green Bis, yaitu bis yang rutenya adalah keliling kota. Seru banget ya. Kami membeli tiket untuk sehari, sebesar 700 yen. Maksud hati sih ingin menjelajah ke semua objek wisata yang ada di Fukuoka.

Bisnya unik, kursinya dari kayu dan dicat funky sekali, Mirip pohon. Tujuan pertama adalah Fukuoka Tower dan RoboSquare. Robosquare adalah semacam outlet yang menjual dan memamerkan robot beraneka jenis. Kami sempat menyaksikan pertunjukkan robot juga. Seru sekali. Beraneka robot menyanyi dan menampilkan aneka atraksi. Saya juga membeli sebuah mainan berbentuk katak, dengan tenaga solar. Sempat ragu juga apakah membeli mainan katak atau robot bayi. Agak menyesal juga karena tidak membeli robot bayi.

Masih di kompleks yang sama, kami ke Fukuoka Tower. Tingginya 234 m. Disediakan lift, hanya saja ada biaya masuk, sebasar 640 Yen. Sangat mahal. Bandingkan dengan tiket Kamome Saga-Fukuoka sebesar 900 yen atau tiket green bus seharian sebesar 700 yen. Dari atas Fukuoka Tower ini, kota Fukuoka terlihat dengan jelas. Kota ini terdiri dari banyak sekali gedung bertingkat dan sangat padat. Kota Fukuoka terletak di tepi pantai. Kabarnya pantai ini adalah hasil reklamasi.

Kota Fukuoka Dilihat dari Atas Fukuoka Tower

Kota Fukuoka Dilihat dari Atas Fukuoka Tower(dari koleksi pak Handoko)