Back Packer ke Bangkok

Perjalanan menutup tahun 2015 yang kami lakukan tanpa ayah. Dia sedang menikmati kerja di tempat baru, sehingga tidak bisa cuti. Baiklah…kami bertiga, ditambah dua orang teman kantor dan anaknya. Jadinya yang pergi mayoritas cewek ya…Ternyata di kemudian hari, setelah kami kembali, ayah komplain juga, kenapa tidak diajak. Akhirnya kami menyepakati untuk mengadakan traveling bareng dengan ayah di awal tahun 2017. Tempatnya masih dirahasiakan. Seminggu berada di sana, rasanya ternyata lama banget ya. Agak beda saat di Malaysia. Di Malaysia itu 4 hari. Rasanya singkat banget. Pada waktu buat plan, mikirnya perjalanannya saja kan sudah lama, terus ongkosnya juga mahal, masa baru datang sudah balik lagi. Gak mau rugi ceritanya. Ternyata khusus untukku dan Sofu, perjalanan kami yang seminggu ditambah 1 hari lagi, yang sangat mencekam. Jadi totalnya 8 hari.

Jalan-jalan ke Bintan

Bulan Februari lalu saya dan teman-teman kampus mengadakan acara jalan-jalan ke Bintan, tepatnya ke Bintan Agro Beach Hotel and Resort. Tiga tahun yang lalu juga pernah ke sana. Ada beberapa penambahan bangunan. Kami pergi dua minggu setelah imlek, yang ternyata di hari H malah turun hujan deras sekali. Padahal selama seminggu sebelumnya cuaca panas terik lho. Sebenarnya agak takut juga naik ferry di cuaca yang hujan seperti itu. Ternyata malah tidak ada masalah. Kebetulan juga tidak ada angin kencang, jadi ferry bisa jalan dengan lancar. Gelombang laut juga biasa saja.

Yang pasti banyak dikenang adalah saat di pelabuhan. Saat berangkat, di banyak tempat pelabuhan digenangi air banjir, sehingga celana, sepatu, sandal, basah semua. Terus  suasana juga hujan dan persediaan payung apa adanya. Misalnya nih keluarga saya, bertiga, hanya bawa payung 1. Payung dibawa ama Nurul. Saya dan Sofia jadi kehujanan deh. Terus Sofia gak berani jalan sendiri karena banyak genangan air, terpaksa harus digendong. Untung saja ada teman baik hati yang mau membantu membawakan koperku.

Kami agak heran juga dengan pelabuhan Punggur yang masih apa adanya. Kalau suasana cerah sih kelihatan biasa saja, tapi kalau sedang hujan seperti itu, suasana sangat berantakan sekali dan jauh dari nyaman. Terus mau masuk pelabuhan juga repot dan macet banget, sehingga banyak kendaraan yang memilih parkir atau menurunkan penumpang di luar pelabuhan. Kami ceritanya juga diturunkan di luar pelabuhan, sehingga harus hujan-hujan dan menerjang genangan air.

Di hotel, alhamdulilah enak, dapat kamar baru yang besar, bagus banget. Memang harganya juga sangat mahal ya. View dari kamar bagus banget. Sofia senang banget mandi di bath tub, yang menjadi salah satu impiannya. Tiap anak itu punya impian masing-masing, yang kadang-kadang beda dengan apa yang kita bayangkan. Sekarang kan jarang ya hotel yang pakai bath tub, sehingga saat dia menginap di hotel tersebut, wah dia akan senang sekali.

Habis itu mereka berenang di kolam renang, sampai gak sempat main pasir, karena sudah fokus di renang. Memang sih sudah lama kami tidak ajak dia renang. Mungkin dia juga sudah lupa gimana rasanya berenang. Habis itu kami santai-santai main ayunan dan perosotan di taman bareng teman-teman lainnya sampai menjelang maghrib.

Pagi-pagi, kami nyobain ngegym. Lumayan dapat keringat juga. Terus sepedaan dan main basket. Kemudian Sofia dan Nurul lanjut renang lagi. Mumpung gratis ya…Rasanya bentar ya, karena tiba-tiba saja sudah jam 10.00, di mana kami harus beres-beres, karena check out jam 11 siang. Sampai di pelabuhan Tanjung Pinang, kami beli otak-otak. Ternyata Sofia tuh doyan banget dengan otak-otak. Padahal rasanya berbumbu dan agak pedas gitu. Dia di ferry malah ikut gabung ama Rhana dan Mbak Chae. Mereka cerita-cerita ngalor-ngidul. Lucu deh. Meskipun cuma jalan-jalan dua hari semalam, sudah menghilangkan penat di kepala. Ini foto bersamanya. Ternyata anggotanya sudah banyak banget ya, padahal masih ada beberapa keluarga yang berhalangan ikut, karena ada kegiatan lain dan sakit.

foto bersama

 

Traveling ke Bandung

Mengenang masa lalu pernah tinggal di kota ini. Dulu pernah beberapa hari nebeng di kosan teman di Cisitu Lama. Sekarang kos lagi di Cisitu Lama. Kayaknya gak banyak berubah ya kawasan ini. Rumah-rumahnya tetap, lorong-lorongnya juga tetap. Pasti ada yang berubah satu dua, tapi secara umum tetap. Minggu lalu, ada hujan besar, kehujanan….terus jalanan banjir oleh genangan air. Kalau yang ini kayaknya ciri khas Bandung ya. Kalau hujan besar, langsung ada genangan air di mana-mana. Yang agak mengagetkan adalah adanya petir yang suaranya dasyat banget. Di kelas, kami sering terkaget-kaget dan ketakutan mendengarnya. Kayak di Batam saja. Hal tersebut meruntuhkan hipotesisku bahwa petir besar hanya ada di Batam.

Di Bandung tuh tempat makanan enak. Memang benar sih, terus lebih murah. Aku banyak menjumpai makanan seporsi Rp 8.000 s.d. Rp 12.000. Di kampus juga rata-rata harganya Rp 12.000. Makanan enak lainnya tentu Kartika Sari…enak banget…pisang bolennya, hanya tidak bagus kalau sering-sering beli. Bukan hanya boros, tapi takut tambah melar badanku.

Ingat itu, aku punya program jalan kaki kalau ke kampus. Tapi harus meluangkan waktu 20 menit sebelumnya. Bisa jalan dengan santai dan menikmati pemandangan dan jalanan yang kita lalui. Kadang-kadang baru keluar dari kosan jam 06.45. Terlalu singkat untuk jalan santai. Kalau kasusnya kayak gini, lebih enak naik angkot saja sih…habis naik angkot, kita mesti jalan lagi ke kampus, karena angkotnya berhentinya agak jauh dari pintu belakang. Tapi kalau pulang dari kampus, lebih baik naik angkot, karena jalanan menanjak. Diprovokasi teman supaya jalan saat pulang, tapi naik angkot ternyata lebih menggoda.

Traveling kali ini, menurutku adalah sebuah kesempatan emas untuk mengupgrade diri supaya lebih baik, terutama dalam skill bahasa Inggris. Kesempatan, karena kapan lagi coba bisa belajar secara intensif begini. Mumpung bude ada di Batam, jadi ada yang mengurus rumah. Semoga bisa mencapai prestasi yang maksimal.

Di sini nyobain naik Uber gratisan, nyobain air port yang baru direnovasi, kuliah di gedung baru. Sebenarnya gak tahan juga ya jauh ama Sofia. Kayaknya dia juga ngerasain hal yang sama juga. Mungkin karena bungsu ya…jadinya perasaannya lebih kuat. Semoga saja untuk selanjutnya bisa kuliah yang bisa nglajo, gak harus jauh banget dari rumah. Misalnya kuliah di Singapura. Pergi pagi, pulang sore. Semoga bisa diterima di sana, dapat beasiswa, dan bisa menjalani dengan baik kuliahnya.

 

Memantaskan Diri

Ini pesan dari manajemen LPDP saat pembukaan program Pengayaan Bahasa awal April lalu. Dengan diterimanya kalian sebagai calon penerima beasiswa, kalian harus berkaca, apakah kalian sudah pantas menjadi penerima beasiswa. kalau belum, kalian harus memantaskan diri, supaya pantas/patut menjadi penerima beasiswa. Misalnya : mengupgrade diri dengan memanfaatkan kesempatan diikutkan PB dengan sebaik-baiknya supaya menguasai bahasa Inggris sesuai yang persyaratan. Kalian juga dituntut mulai memikirkan apa kontribusi yang bisa kita kita berikan untuk negara ini. Ini tuntutan sekaligus tantangan yang seru. Risetku harus mulai dari sini.

Hunting beasiswa LPDP

Ceritanya di pertengahan tahun 2015, sekitar bulan September. Sesudah les selesai, ada teman yang cerita sesuatu ke temannya. Bukan ke aku sih, tapi aku dengar sekilas sambil memakai sepatu. Ternyata ada pembukaan beasiswa afirmasi batch ketiga tahun 2015. Setahuku di jadwal kan hanya dibuka dua kali. Aku ada rencana ikut beasiswa ini, tapi karena masih dibuka di bulan Januari 2016, jadinya masih santai belum persiapan apa-apa.

Sampai rumah, langsung deh cek ke webnya, ternyata benar. Tiba-tiba saja pengin ikut beasiswa tersebut. Kebetulan sudah punya sertifikat ITP. Dokumen yang harus disiapkan masih banyak, antara lain : (1) ijin dari kampus, (2) rekomendasi dari atasan, (3) surat keterangan sehat dari dokter pemerintah, (4) dua buah essay. Waktu yang tersedia itu hanya satu minggu lho. Terus di waktu tersebut ada kunjungan dari asesor akreditasi. Bisa dibayangkan gimana singkatnya waktu yang ada. Aku ini termasuk orang yang perfeksionis, jadi kalau buat essay kurang bagus, akan diedit terus sampai bagus. Aku sudah cicil upload semua dokumen, kecuali essay, karena memang belum selesai. Untungnya selesai juga di hari terakhir penutupan beasiswa. Tapi apa yang terjadi? Webnya tidak bisa diakses lagi. Sangat lambat sekali. Aku sudah coba sampai tengah malam, gagal terus. Banyak komentar di FB LPDP mengeluhkan hal tersebut. Aku coba lagi besok sorenya, akhirnya bisa juga upload essayku dan dapat kartu peserta. LPDP ternyata masih berbaik hati, karena aku masih diikutkan juga untuk seleksi di bactch 3 tersebut.

Tahap selanjutnya adalah :

  1. menanti hasil seleksi administrasi, tahap ini tidak terlalu terasa, karena kesibukan pekerjaan
  2. wawancara, kebetulan aku pilihnya di Bandung. Ada tiga tahapan, yaitu wawancara, LGD, dan menulis essay. Yang paling seru tentunya wawancara dan kayaknya ini yang paling menentukan ya. LGD alhamdulilah lancar. Teman-teman yang bareng LGD ama aku juga enak diajak kerja sama, sehingga diskusinya enak dan runtut. menulis essay juga lancar-lancar saja. Kebetulan aku kan suka mengarang.
  3. pengumuman dapat beasiswa/tidak. Menunggu hasilnya ini mendebarkan sekali. Apalagi aku ikut grup di media sosial, jadi baca-baca juga status teman-teman seperjuangan, bagaimana perasaan mereka menunggu saat-saat tersebut. Aku saat dapat email pengumuman malah sedang les. Jadi gak konsen lesnya nih. Baca pengumuman lolos, seneng banget. Tapi kok dapat email lagi, beasiswanya dipindahkan ke perguruan tinggi dalam negeri. Jadi menurun drastis gitu kegembiraannya.
  4. pengayaan bahasa (PB). Tahap ini juga lama banget. Pengumuman beasiswa tgl 10 Desember, baru dapat undangan PB di pertengahan bulan Maret ya. Sekarang sedang diikuti nih.
  5. hunting cari sekolah (yang ini LPDP tidak terkait langsung, tapi urutannya mestinya seperti ini ya). Yang ini juga sedang diikuti
  6. pelatihan kepemimpinan (PK). Ini belum diikuti. Dengar info, kalau saat puasa tidak ada PK. Paling cepat setelah lebaran, jadi paling cepat di pertengah bulan Juli 2016

 

Mengunjungi Republic Polytechnic

Ini cerita tahun lalu, sekitar awal November 2015. Kami dari Politeknik Negeri Batam study tour ke Republic Polytechnic di Singapura. Yang agak beda, adalah kami jadi panitia, yang mengawal sekitar 20 mahasiswa. Ngerasa agak-agak takut gimana, karena banyak banget rombongannya. Mayoritas sih nurut, tidak macam-macam. Ada satu dua yang agak sulit diatur, misalnya datangnya terlambat sekali, terus ada juga yang tidak mematuhi jadwal ketemuan, sehingga kami harus menunggu mereka yang terlambat tersebut. Hal ini tentunya menggeser jadwal yang telah ditetapkan. Terus di imigrasi saat masuk Singapura, ada satu orang yang tidak lolos imigrasi, gara-gara namanya hanya satu kata. Jadinya kami nunggu dia agak lama, karena saat dia diperiksa dia juga harus antri dengan orang-orang yang nasibnya sama. Di acara rombongan yang besar seperti ini, kami sangat terbantu dengan adanya tour guide, yang menyediakan bis, makanan, minuman, dan city tour ke tempat wisata yang ada di Singapura. Hm..sudah lama juga gak jalan-jalan ke tempat wisata tersebut, kecuali Mustafa, yang pernah aku kunjungi di bulan Mei di tahun yang sama.

Back packer ke Kuala Lumpur (1)

Di libur lebaran tahun ini, kami mengisinya dengan back packer ke Kuala Lumpur. Temanya keren “back packer”. Sebenarnya kami tidak berniat terlalu mengirit. Tapi sesuainya dengan temanya, kami jadi terbawa ikut suasana backpacker juga. Alhasil, uang yang kami siapkan masih tersisa cukup banyak, sebanyak 1.5 juta. Kami menyiapkan uang 10 juta untuk 4 hari 3 malam bagi 4 orang. Jadi 1 orang jatahnya 2.5 juta. Data ini didasarkan pada harga yang ditawarkan oleh biro-biro perjalanan yang menawarkan paket perjalanan Batam-Kuala Lumpur selama 3 hari 2 malam, sebesar 2.75 juta per orang. Ternyata jalan sendiri lebih hemat kan? Waktunya lebih lama, tapi harganya lebih murah. Rencana awal mau menyusur dari Penang, Kuala Lumpur, Malaka, Johor. Dengan pertimbangan keterbatasan waktu dan tenaga, akhirnya kami ambil rute Batam-Kuala Lumpur-Johor-Batam.

Perjalanan diawali dengan naik pesawat Malindo Air dari bandara Hang Nadim. Ini penerbangan internasional pertama kami dari bandara Hang Nadim. Pesawat dijadwalkan terbang jam 11.50. Kami sudah sampai di bandara jam 10 pagi. Check in, kemudian menuju ke gate yang ditentukan. Ada satu gate untuk penerbangan internasional. Ternyata kami kepagian, karena gatenya masih kosong, belum ada orang. AC juga belum dinyalakan. Untuk memasuki gate tersebut ada counter imigrasi yang harus dilewati. Petugasnya juga belum ada. Petugasnya baru mulai datang jam 11.15.

Jpeg

Menunggu pesawat

Jpeg

berfoto dengan back ground pesawat

Setelah check ini, aku baru sadar kalau pesawat akan mendarat di lapangan terbang Sultan Abdul Azis Shah di Subang. Awalnya aku mengira kami akan mendarat di KLIA 2.  Mungkin terpengaruh info dari blog-blog lain, kalau ke Kuala Lumpur pesawat akan mendarat di KLIA atau KLIA 2. Pesawat Malindo ukurannya kecil. Kapasitas 70 orang dan ada baling-balingnya. Kalau sedang melintasi awan terasa sekali. Demikian juga saat mau take off dan landing, pesawat terasa sekali berjalan dengan kecepatan sangat tinggi. Di pintu masuk bandara, kami harus melewati petugas imigrasi Malaysia. Meja mereka sangat dekat dengan pesawat yang sedang dihidupkan mesinnya, sehingga sangat berisik. Kami disuruh scan 2 jari telunjuk. Kami sempatkan makan siang di sini, karena waktu sudah menunjukkan jam 14.30 waktu Malaysia. Sudah sangat terlambat makan siang. Awalnya kami mengira harga makanan di bandara pasti sangat mahal. Ternyata tidak terlalu mahal. Tetap masih lebih mahal dibanding di rumah makan sejenis, akan tetapi perbedaan harganya tidak terlalu mencolok.

Tujuan selanjutnya adalah stasiun KL sentral. Kami memilih naik bis, supaya lebih murah. Tapi sebenarnya kami gak tahu juga apakah naik taksi lebih mahal daripada naik bis. Kami tidak sempat survey harga taksi berapa. Kami menunggu bis cukup lama, karena frekuensi kedatangan bis adalah 1 jam sekali.Kami diturunkan di KL Sentral. Di sini kami jalan-jalan dulu di mallnya. Bagus banget mallnya. Kebetulan ada pameran dengan tema hari raya. Pamerannya menggunakan stand rumah-rumah adat di Malaysia. Agak beda dengan pameran di Batam yang kebanyakan pakai stand-stand kecil. Dari mall kami ke stasiun KL Sentral. Kami agak kebingungan juga mencari di mana stasiun LRT-nya. Untung saja, ada orang yang berbaik hati kasih tahu di mana letaknya. Ternyata harus keluar dari mallnya. Tujuan selanjutnya adalah stasiun Pasar Seni. Pengalaman pertama beli tiket LRT. Yang buat aku heran, dari KL Sentral ke Pasar Seni kena charge 3.2 RM per orang. Mahal banget kan. Dan di trip selanjutnya, kami hanya kena charge 1 RM per orang. Aneh banget kan?