Liburan Naik Kuda

IMG-20181028-WA0020

IMG-20181028-WA0019

 

Berawal dari dengerin testimoni dari seorang teman, tentang tempat wisata di Lembang, hari ini kami mengunjungi salah satunya, De Ranch. Kami dari rumah start jam 08.00 pagi. Perkiraan Google Map cukup akurat, hampir mirip dengan kenyataan, sekitar jam 09.00 kami sudah sampai ke lokasi. Jalan yang dipilihkan juga cukup lancar, yaitu melalui Dago Giri. Cuma jalannya memang menanjak, dan mobil terasa gak kuat menanjak. Beberapa kali nanya ke suami, apakah mobilnya kuat nih melalui jalanan ini?

Tempatnya adem, begitu masuk, langsung deh menukarkan tiket masuknya dengan segelas susu segar sambil memandang ke lapangan dengan view pegunungan yang hijau. Kami kemudian mengitari area wisata itu. Banyak sekali permainannya dan semuanya cocok untuk anak kecil. Beberapa cocok juga untuk orang dewasa. Ada beberapa yang menarik perhatian Sofia, yaitu the Gold Hunter alias menambang emas, kemudian naik kuda Indian, naik Flying Fox, mewarnai keramik, mewarnai tas, dan naik balon raksasa di air. Banyak sekali ya yang menarik perhatiannya.

Sebenarnya mainannya lebih banyak lagi, ada naik ATV, naik sepeda, main trambolin, main ke taman kelinci, ngasih makan sapi, dan lain-lain. Hanya sayangnya tiketnya bayar masing-masing, sehingga kami pilih-pilih beberapa wahana yang benar-benar menarik. Hari ini dia naik kuda, main flying fox, mengunjungi taman kepompong, dan main The Gold Hunter. Next time, main di wahana yang lain. Melihat anaknya naik kuda besar, Emaknya jadi pengin juga naik kuda. Enak ternyata naik kuda. Rasanya santai, sehingga tidak terasa sudah selesai memutari lapangan yang sangat luas itu.

Di sana juga banyak penjual makanan yang kelihatan enak-enak. Untung saja harganya tidak terlalu premium, sehingga kami bisa memilih menu kesukaan masing-masing. Di sana juga dijual barang-barang kerajinan dengan tema tentang kuda dan tanaman hias. Yang menonjol adalah tanaman kaktusnya, karena imut-imut sekali tanamannya.

Aroma Karsa

Week end kali ini terasa panjang. Diawali dengan menyelesaikan kerjaan rumah dan mengerjakan PR. Capek juga buat PR, sehingga memutuskan untuk membaca novel Aroma Karsa karya Dewi Lestari. Ini bukan novel baru. Beberapa bulan yang lalu, ketika sedang ke rumah orang tua, aku melihat novel tersebut dan berniat membacanya. Karena banyak kesibukan, novel itu terlupakan. Novelnya sendiri ukurannya cukup tebal dan meyakinkan. Hanya saja sampulnya tidak terlalu provokatif untuk mengajak orang membacanya.

Aku coba membacanya pelan-pelan, ternyata seru. Jadi betah lama-lama duduk membaca novel itu. Alurnya susah ditebak, tapi aku juga gak pengin langsung ke bagian terakhir. Aku merasa betah menikmati detil-detil setiap paragraf novel tersebut. Banyak hal-hal baru dan istilah baru, terutama di bidang aroma yang baru kukenal. Ceritanya rumit sekali. Ada aspek sejarah, industri parfum, ambisi yang diperjuangkan secara terencana dan membabi buta, cinta, Bandar Gebang, Sentul. Sebagaimana novel-novel Dewi Lestari lainnya, di novel kali ini, Dewi juga menampilkan cerita-cerita dunia lain, yang membuat kita penasaran, tapi jauh dari kesan horor. Weekend yang berkesan.

Bandung, kotaku kini

Gak menyangka kalau aku masih betah di Bandung. Tadinya menyangka, akan merasa bosan di sini seperti saat kos saat pelatihan bahasa beberapa tahun yang lalu. Ternyata membawa keluarga pindah ke sini, menyewa rumah, bukan kos, yang spacenya lebih besar, peralatan lebih lengkap, membuat kita merasa at home juga. Kebetulan kami menyewa rumah di kawasan pemukiman biasa, di daerah yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Jadi merasakan suasana yang berbeda dan tidak membosankan. Berikut perbandingan antara Bandung dan Batam.
1. Di Bandung, harga bahan makanan lebih murah terutama lauk-pauk, sayuran, dan buah-buahan. Harga makanan matang juga jauh lebih murah di sini. Efeknya pengeluaran berjalan lebih lambat dibanding di Batam.

2. Di Bandung orangnya ramah dan baik hati. Ceritanya siang itu, kami habis belanja terus ngebakso. Saat mau pulang menuju parkiran, tiba-tiba terasa dompet di sakuku hilang. Jantungku langsung deg gitu. Tiba-tiba ada seorang cowok memanggil aku sambil nyerahin dompetku. Katanya tadi dompetnya jatuh. Alhamdulilah…

3. Di Bandung makanannya enak-enak dan banyak banget yang jualan. Sepanjang jalan yang biasa kulalui saat mengantar anak sekolah, dijumpai banyak sekali orang jualan, ada bakso, siomay, martabak, Thai tea, chocolate changer, jus, gorengan, es krim cincau, salad buah, ayam goreng, dll. Untung aku tahu diri, kebanyakan jajan ntar kebanyakan mengkonsumsi karbo dan juga banyak pengeluaran. Sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit. Kami biasa beli buah-buahan yang sedang musim di warung sebelah.

4. Di Bandung dda tukang jualan sayur dan lauk mentah. Yang ini jadwalnya sudah fix juga, sekitar jam 06.30 s.d. jam 07.00. Jadi kalau mau ngapelin si bapak tukang sayur, jangan bangun kesiangan. Di Batam juga ada tukang sayur, tapi karena tempat tinggal kami tidak dilewati tukang sayur, kami biasanya nyetok sayur dan ikan di kulkas. Sebagai temporary resident, kami tidak terlalu membutuhkan kulkas.

5. Di Bandung jarang menjumpai orang jualan ikan segar di pasar, beda dengan di Batam, yang banyak sekali ragamnya

6. Di Bandung penduduknya padat sekali, rumah berdempetan, jalanan kecil. Keluar gang, kita akan menjumpai jalanan besar padat dipenuhi motor, angkot, dan mobil pribadi. Mau menyeberang saja sering takut. Aku biasanya pakai fasilitas zebra cross di perempatan jalan, supaya lebih aman saat menyeberang. Kalau naik mobil, kami biasa pakai Google Map. Aku dapat tugas jadi navigator. Baru sebentar sudah belok, ke kanan, ke kiri. Jadi gak bisa nyambi baca WA atau main FB.

7. Di Bandung angkot cenderung sepi, karena harus bersaing dengan Gojek dan Grab. Kadang sendirian saja naik angkot. Ini tidak menyenangkan, karena sopirnya sering ngetem, jadi lama sampai ke kampus. Padahal sudah buru-buru. Jadi aku sering mendoakan sopir angkot supaya banyak penumpangnya. Sama-sama untung kan. Tapi mereka kalau nyetir sering ngebut dan gak smooth, kayak orang baru belajar nyetir gitu. Kadang sering takut kalau kecelakaan. Jadinya banyak-banyak dzikir gitu di dalam angkot. Perjalanan naik angkot ini juga lama, jadi bisa sambil main HP.

8.Di Bandung rumahnya bagus-bagus sehingga enak dilihat. Si bungsu yang calon arsitek dan seniman senang melihat-lihat rumah-rumah yang bagus tersebut

9. Di Bandung banyak event-event dan tempat wisata yang bisa dikunjungi

10. Di Bandung jalanan sering macet. Beda sekali dengan di Batam yang lancar jaya.

 

Naik Motor?

Sekolah si bungsu yang baru letaknya agak jauh dari rumah. Jalannya juga berliku-liku. Yang paling berat ada jalanan menanjak sekitar 200 m. Kalau naik motor, 5 menit sampai. Kalau jalan kaki sekitar 15 menit dengan jalan santai. Kalau jalan cepat bisa 10 menit sampai. Si bungsu pengin dibeliin motor, jadi penginnya antar jemputnya naik motor. Tapi setelah dipikir-pikir, kalau naik motor, berarti si bungsu, emak, dan bapaknya kehilangan kesempatan olahraga 30 menit per hari. Di posisi sekarang, tanpa motor, mau gak mau terpaksa jalan, terpaksa bergerak, jadinya olahraga. Apalagi kalau menjemputnya telat karena asyik main komputer, terpaksa jalan cepat. Si bungsu juga harus ditrigger pertumbuhan badannya dengan olahraga, supaya cepat tumbuh tinggi.

Kami kadang jalan kaki sambil mengggandeng tangan tangan lembutnya. Kapan lagi ya bisa gandengan tangan seperti itu ya? Kalau di jalan yang sepi aku sering membantunya menghafal perkalian 1 s.d 100. Kami kadang jajan bentar beli es krim kesukaannya.

Di pertengahan Juli 2018 lalu, saat dia mulai sekolah, kami juga merasa berat melewati jalan tersebut. Maklum jarang olahraga. Di Batam, jarang bergerak, lebih mengandalkan pakai kendaraan untuk pergi ke mana-mana. Saat itu, kami juga sedang persiapan ibadah haji. Jadi harus berolahraga untuk meningkatkan stamina. Alhamdulilah, dapat kesempatan dua minggu sebelum aku berangkat ke Saudi Arabia. Ternyata saat tawaf, Sai, dan melempar jumroh, tuntutan jalan kakinya lebih luar biasa. Tapi alhamdulilah, bisa dijalani juga dengan susah payah. Ternyata ada manfaatnya ya.

Eh nyambung ke aktifitas di Mekah, kami Tawaf dan Sai-nya pada malam hari, sekitar jam 10 malam atau 11 malam, bahkan pernah juga jam 03 dini hari. Pertama kali kaget banget mendengarnya, berharap tidak salah dengar. Memang begitulah kenyataannya. Masak aku yang belum tahu apa-apa, mau tawaf sendiri, tanpa rombongan? Ternyata waktu malam, sesudah shalat Isya’ adalah waktu yang paling ideal untuk atifitas tersebut.

Di umroh-umroh selanjutnya dan tawaf-sai lainnya, kami juga selalu melakukannya di malam hari, sehingga menjadi terbiasa untuk melekan. Hal itu memberi manfaat, saat menjadi navigator suami yang nyetir mobil dari Pati ke Bandung atau Bandung-Jakarta, jadi kuat melek, gak mengantuk lagi.

 

 

Generasi Muda Jadi Pemimpin

Saat haji, ada beberapa kelompok usia, yaitu 30-an, 40-an, 50-an, 60-an, 70-an. Dari beberapa aktifitas yang berlangsung, kebanyakan generasi muda umur 30-an dan 40-an lah yang memimpin. Misalnya dalam keseharian, shalat berjamaah. Rata-rata bapak-bapak muda tersebut siap menjadi imam. Atau saat rombongan ke masjid. Merekalah yang akan memimpin bapak dan ibu yang sudah lebih tua. Bravo generasi muda.

Sesudah pulang haji, mamaku punya kesimpulan kalau haji itu sebaiknya di usia muda. Karena pelaksanaan ibadahnya memang menguras energi yang lumayan besar, sehingga lebih nyaman kalau dilakukan saat masih muda. Dia banyak mendorong keponakan-keponakan dan anak-anaknya untuk segera mendaftar haji, supaya bisa haji di usia masih muda.

Tamu Allah

IMG_20180826_012737

Ada teman yang mampir ke rumah di suatu sore. Cerita ngalor-ngidul ke sana ke mari. Sampai akhirnya ada yang nanya, apakah benar, kalau saat haji, Allah akan membalas perbuatan-perbuatan yang kurang baik yang pernah kita lakukan saat di tanah air? Aku juga pernah baca blog yang membahas hal tersebut. Tapi menurut pandanganku sendiri dan juga yang kualami, kesimpulannya terlalu berlebihan dan sering dibuat mengada-ngada(hoax) supaya orang takut pergi haji. Beberapa diantaranya :
1. kalau di lingkungan baru, kita sering bingung atau tersesat. Tapi kan bisa nanya. Kemenag menyebar banyak petugas berseragam untuk membantu jemaah yang kesusahan baik di Mekah, Arofah, Musdalifah, Mina, maupun di Madinah.
2. Di masjidil Haram dilengkapi dengan eskalator, tapi banyak yang gak perah pakai eskalator, sehingga rawan kecelakaan. Bagi sebagian orang, teknologi memang menakutkan, tapi bagi yang lain itu hal biasa.
3. Di Saudi Arabia banyak jemaah menjadi sakit. Ini bukannya kena adzab, tapi karena lingkungannya memang lebih keras dan panas, sehingga harus disiasati supaya kita tidak kena heat stroke atau mudah sakit, dengan memakai alat pelindung diri.
4. Di Saudi Arabia, rawan penculikan wanita, misalnya saat naik kendaraan umum. Menurut saya terlalu berlebihan sih, karena Mekkah dan Madinah adalah tanah haram, orang juga takut kalau berbuat dosa. Saat berjalan-jalan, rasanya aman dan nyaman-nyaman saja sih.

Saat Allah memanggil kita untuk berhaji, itu ibaratnya kita diundang Allah pergi ke rumahnya. Jadi kita ini adalah tamu Allah. Kalau kita jadi tamu seseorang, pasti kita akan diperlakukan istimewa. Apalagi menjadi tamu Allah.

Pemerintah Saudi Arabia dan juga pemerintah Indonesia juga telah mengusahakan sedemikian rupa, supaya kita nyaman saat haji, mulai dari penyediaan hotel, makanan, transportasi, para petugas haji, dll. Misalnya :
1. Hotel nyaman dan ber-AC
2. Makanan lancar, bahkan dapat buah, paket untuk membuat kopi, teh, gula, termasuk gelas dan sendok
3. Transportasi gratis ke masjidil harom, ke bandara, ke madinah, saat Armina
4. Petugas haji dan petugas kesehatan yang sangat membantu
5. Pelayanan kesehatan dan obat-obatan gratis
6. Penanganan kalau ada jemaah yang hilang
7. Pesawat yang sangat memadai, bahkan dibantu mengangkat koper segala
8. Asrama haji
9. Dapat uang saku, untuk beli oleh-oleh atau makanan lainnya
10.Tour ke beberapa tempat wisata
11. Dapat uang pengganti biaya pembuatan passpor, termasuk passpor yang sudah lama, tetap saja dapat uang pengganti.
12. Kemudahan di imigrasi baik di Indonesia maupun di Saudi Arabia
13. Masjidil Harom dan masjid Nabawi mempunyai fasilitas yang sangat memadai, sehingga jemaah bisa beribadah dengan nyaman.
Menurutku, kalau kita berbaik sangka, kita akan menikmati hal-hal yang enak dan mudah ya. Jadi jangan mudah termakan hoax ya, seputar adzab dan lain-lain. Justru saat haji, banyak kesempatan untuk meminta ampun atas kesalahan yang pernah kita perbuat dan juga banyak kesempatan untuk memperbanyak ibadah kita.

Strategi Menuju Keberhasilan

Saat umroh, terutama di umroh pertama, dijumpai banyak jemaah yang masih melakukan kesalahan. Misalnya saat umroh, salah menghitung jumlah tawaf dan sai, salah dalam urutan. Tawaf dulu baru Sai. Kok bisa. Memang itu kenyatannya.

Kesalahan menemukan letak ka’bah dan tempat Sai, karena masjidil haram sangat besar dan luas. Sampai kesalahan-kesalahan kecil yang akibatnya cukup fatal. Misalnya kurang minum sehingga dehidrasi, lupa alamat hotel sehingga bingung mau pulang ke mana, dll.

Ada banyak strategi yang dilakukan untuk meminimalkan kesalahan, misalnya dengan pergi berombongan, sehingga di pelaksanaan haji, muncul yang namanya kelompok Bimbingan Ibadah Haji(KBIH). Para jemaah banyak yang berminat bergabung dalam KBIH ini. Tentunya ada biaya yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan. Bagaimana kalau ingin berhemat? Jemaah melakukan haji mandiri, seperti yang kami lakukan. Prinsipnya tetap sama, untuk memnimalkan kesalahan, bergabung dulu dalam rombongan karena dalam rombongan segala sesuatunya tetap akan lebih mudah. Kalau ada kesulitan bisa dibantu oleh anggota yang lain. Hanya saja, di rombongan ini sifatnya tidak sesolid kalau diurus oleh KBIH, sehingga kita dituntut untuk mandiri. Kesalahan di umroh pertama harus diselesaikan, sehingga sudah lebih siap di umroh kedua, dan seterusnya.

Saat umroh pertama, saat tawaf aku terpisah dari rombongan. Padahal sudah pegangan tangan, tetap saja terpisah. Pikiran jadi bercabang antara mencari teman serombongan dengan pelaksanan tawaf itu sendiri. Sesudah selesai tawaf, bingung tidak tahu tempat sai sehingga harus bertanya-tanya ke jemaah lain yang tidak kita kenal. Kebetulan umroh pertama dilaksanakan tengah malam, jadinya aku sempat ketiduran sambil jalan saat sai. Beberapa kali aku minta ke mama supaya berhenti dulu, duduk-duduk dulu di pinggir, tiduran dulu, karena ngantuk banget. Sesudah tawaf, aku bingung bagaimana cara balik ke hotel ya. Untung bisa WA suami yang tawaf di lantai paling atas, untuk janjian pulang bareng. Suami mendorong Bapak naik kursi roda, sehingga tawaf dan sai di lantai paling atas. Di umroh pertama ternyata banyak teman-teman yang tidak menyelesaikan umrohnya dengan alasan-alasan yang mirip denganku, terutama terpisah dengan rombongan kemudian tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kesalahan-kesalahan tersebut akan menjadi pelajaran berharga untuk umroh-umroh selanjutnya. Kami mulai belajar membaca petunjuk-petunjuk yang sebenarnya banyak tersebar di sekeliling masjid, sudah mulai mengenal medan, sehingga kekuatiran terpisah dengan rombongan bisa diminimalisir dan bisa lebih fokus pada ibadah. Aku menjalankan ibadah mandiri saat pelaksanaan haji di Saudi Arabia ini, karena KBIH yang kuikuti hanya membimbing jemaah saat persiapan ibadah di dalam negeri saja.

Ada pengalaman seru saat melempar jumroh, yaitu ditinggal oleh rombongan sekloter. Aku dan suami masih membantu Bapak di toilet ketika rombongan bersiap-siap berangkat, dan ketika kembali ke tenda, ternyata rombongan kloter sudah berangkat. Ternyata ada dua ibu yang tertinggal juga. Mereka sedang di toilet dan ditinggal teman-temannya. Akhirnya kami berempat pergi bersama. Saat berangkat cukup mudah. Malam itu banyak rombongan kloter lain yang berangkat. Kami mengikuti saja salah satu rombongan itu, sampai ke tempat melempar jumroh. Prosesinya juga mudah. Yang jadi masalahnya adalah lupa mencatat alamat tenda. Hanya ingat nomor maktab. Akhirnya mengontak ketua kloter dan mendapat arahan untuk menyusuri jalan King Abdul Azis. Di tengah jalan, kami malah ketemu sepupu yang juga menunaikan haji. Sayangnya maktabnya beda. Kami juga ketemu rombongan kecil kloter yang sama yang terpisah juga dari rombongan utama, yang sama-sama nyasar. Kami juga ketemu petugas kesehatan yang maktabnya sama. Wah sudah aman nih, ada di Bapak. Ternyata kami juga harus berpisah di tengah jalan dengan si bapak ini. Ceritanya kami mau shalat subuh. Bapak petugas kesehatan dan suami tiba-tiba menghilang, sehingga kami menunggunya. Ternyata mereka berdua shalat di maktab negara lain. Selesai mereka shalat, kami dapat informasi kalau kami juga bisa shalat di maktab negara lain tersebut. Akhirnya kami jamaah di tenda maktab lain, akan tetapi bapak petugas itu tidak mau menunggu, sehingga dia berjalan duluan menuju maktab. Si bapak sudah memberikan petunjuk juga, tapi kami masih saja nyasar. Kami berjalannya kejauhan beberapa km. Kayaknya suasananya beda. Wajah-wajahnya beda. Akhirnya bertanya-tanya ke petugas di sana, memang kami nyasar. Setelah susah payah bertanya ke beberapa petugas, yang rata-rata memberi informasi yang sama, akhirnya kami sampai juga ke maktab. Selain kami, ada juga jamaah lain yang nyasar, sampai sore baru kembali ke tenda. Kejadian melempar jumroh di hari pertama ini menjadi evaluasi bagi kami, supaya kami lebih kompak di satu rombongan, supaya tidak kesasar lagi. Alhamdulilah kami lancar dan kompak ya. Pergi bareng, saling menunggu, pulang bareng sampai tenda.

Yang terasa lagi terkait haji mandiri atau dikoordinir oleh KBIH adalah saat tawaf dan Sai. Ada beberapa KBIH yang menjaga jamaahnya dengan membentuk barisan supaya solid dan tidak mudah tercerai-berai saat pelaksanaan tawaf dan sai.Aku biasanya ikut nebeng ke rombongan itu, dengan mengekor di belakangnya atau di sampingnya supaya dapat jalan juga. Kadang ikut-ikutan menirukan doa-doa yang biasanya dilafalkan dengan keras oleh pimpinannya. Demikian juga saat di Raudhoh. Ada pimpinan KBIH, tentunya dengan jam terbang yang tinggi, yang mengkoordinir jemaahnya. Aku juga ikutan nebeng mereka, karena gak ada pengalaman.

Sebenarnya di struktur organisasi yang dibuat Kemenag, ada ketua kloter, di bawahnya ada ketua rombongan, dibawahnya lagi ada ketua regu. Hanya saja tidak semua aktifitas bisa tercover ama mereka supaya rombongannya selalu solid dan tidak tercerai-berai. Yang sudah tercover di pelaksanan lempar jumroh, di arofah, di musdalifah. Di tawaf dan sai masih belum dilakukan. Barangkali bisa jadi evaluasi di masa-masa mendatang.

Saat sekolah sekarang ini, ada beberapa strategi yang dijalankan untuk mendukung keberhasilan proses belajar, antara lain :
1. residensi, kampus memberi ruangan, fasilitas meja kursi, listrik, internet, akses jurnal yang hanya bisa dilakukan di jaringan kampus
2. adanya seminar mingguan, semacam sharing progress masing-masing dan tentunya dituntut membuat paper dulu yang akan dipresentasikan
3. pembimbing mewajibkan datang bimbingan di hari kamis pagi. Ada presentasi juga bergantian dan bimbingan. Ini juga efektif mengingat pembimbing punya load pekerjaan yang sangat tinggi.
4. pembimbing mewajibkan kami presentasi 3 paper pilihan di hari rabu sore. Kami ada tiga orang. Jadi kami harus mengikuti presentasi sebanyak 9 kali
5. yang menjadi dosen wali adalah pembimbing. Beliau juga yang memilihkan mata kuliah pilihan yang menunjang pelaksanaan penelitian
6. adanya kelompok kecil, di kami terdiri dari 3 orang, yang menangani topik yang sama. Topik tersebut dipecah menjadi 3 sub topik.  Yang terakhir ini lumayan efektif sejauh ini, karena aku beberapa kali dapat bantuan mengerjakan PR-PR yang susah, terus personilnya juga enak. Semoga bisa selalu cocok sampai lulus ya. Jadi terasa gak kesepian, karena sering bareng-bareng ke mana-mana, sambil mencoba berkenalan dengan teman-teman seangkatan dan senior-senior lainnya.

Yang masih bingung, strategi menyusun paper secara efektif dan efisien, tapi hasilnya berkualitas.