Travelling ke Pulau Bintan

Di akhir bulan Ramadhan suami mengajak travelling ke pulau Bintan. Akhirnya setelah diatur-atur waktunya, kami berangkat di hari keempat lebaran. Pertimbangannya, kami mau memperbanyak silaturahmi ke teman-teman di 3 hari pertama lebaran.

Di hari yang ditentukan, kami meluncur ke pelabuhan Punggur. Rencananya kami mau menyusuri pulau Bintan dengan mobil. Jadi kami naik kapal Roro. Bayanganku, naik Roro tuh seperti naik kapal speed saja, datang, dapat tiket, langsung naik. Ternyata antriannya lama. Kami sampai pelabuhan jam 7, mulai naik fery jam 09.30. Lumayan lama nunggunya, 3.5 jam.Kami naik kapal selama 1 jam. Rasanya kapal bergerak sangat lambat menuju Tanjung Uban.

Sesampainya ke pelabuhan, kami langsung buka Google Map, dengan tujuan Lagoi. Baca-baca di internet, ada kawasan yang dibuka untuk umum free, namanya Lagoi Bay. Kami ke danau kemudian pindah ke pantai, sambil bawa bekal piknik. Seru banget ngebayanginnya, makan ketupat di pinggir pantai, sambil melihat pantai, di atas rumput Jepang yang lembut. Hanya saja, suasana romantisnya berlangsung singkat, karena 30 menit kemudian mulai turun hujan. Akhirnya kami melipir ke Lagoi Mall sambil shalat di mushollanya.

Di travelling kali ini bekal kami lumayan mantap, sehingga bisa mengcover kebutuhan makan pagi s.d. malam. Minumannya air dan Pocari berlimpah. Bahkan masih tersisa sampai sekarang. Setelah cerah, kami ternyata sudah gak mood lagi ke pantai, sehingga diputuskan melanjutkan perjalanan menuju ke vihara 1000 wajah. Langsung buka Google Map ke tujuan.

Perjalanannya cukup lama juga, tapi bisa ditemukan dengan mudah. Viharanya masih baru. Di sana banyak patung-patung Budha dalam berbagai pose. Bagus dan bersih. Sesudah itu kami ke Tanjung Pinang,  mencari penginapan.  Biasanya aku persiapannya detail, hanya saja suami maunya cari penginapan on the spot saja. Ikut saja deh, pengin ngerasain juga traveling yang spontan. Ternyata gampang juga zaman sekarang cari penginapan.

Setelah ketemu penginapannya, kami istirahat sejenak dan makan malam, karena malam hari kami akan mengunjungi seorang teman di Tanjung Pinang. Singkat kata, dengan mengandalkan Google Map, kami bisa menemukan rumah teman tersebut. Ngobrol-ngobrol, sampai gak terasa sudah malam.

Pagi-pagi, cuaca Tanjung Pinang hujan. Kami sarapan di restoran hotel karena dapat voucer sarapan. Oh ya, sebelumnya jam 04 dini hari, pintu kamar ada ketuk-ketuk, tapi tidak kami buka.Takut juga, kuatir yang ketuk orang yang gak bener. Restorannya lumayan, menunya cukup banyak pilihan. Alhamdulilah bisa mengcover kebutuhan sarapan kami.

Sesudah itu, kami lanjut ke pantai, mau melihat tugu pensil dan gedung gonggong. Sayang sekali masih hujan, sehingga puas-puas melihat dari dalam mobil. Si ayah tetap aja menyuruh kami foto-foto. Bad idea, walaupun sudah ditolak, tetap aja dipush idenya, sehingga mau gak mau berpose gak rela di bawah gerimis.

Setelah itu lanjut silaturahmi ke rumah seorang sahabat lama suami saat kuliah dan sahabat keluarga kami. Ini pilihan yang tepat, sambil menunggu hujan reda. Gak terasa jam sudah menunjukkan jam 12.00.

Kami meneruskan perjalalanan menuju ke Treasure Bay di Lagoi. Kami baru sadar, kok jadinya bolak-balik ke Lagoi ya. Tadinya sih mau puas-puas main di Treasure Bay, sehingga dialokasikan hari kedua. Seharusnya langsung saja ya, dari Lagoi Bay ke Treasure Bay. Sempat nyasar juga dan kehilangan sinyal. Alhamdulilah ketemu juga.

Oh ya, di sepanjang perjalanan banyak sekali dijumpai masjid. Kami berhenti untuk shalat dan istirahat. Kami jarang menjumpai Pom Bensin, sehingga memilih istirahat di masjid atau halaman masjid.

Kami sampai Treasure Bay jam 14.00. Jadi ragu-ragu, masuk atau gak mengingat tiketnya Rp 100.000 per orang. Akhirnya karena sudah diniatkan, kami masuk juga. Kolam renangnya besar, gak terlalu panas, karena sudah mendekati sore. Kami renang ke sana ke mari, dari ujung ke ujung, balapan renang, walaupun aku selalu yang kalah. Di sana ada banyak penjaga pantai. Sempat juga mau tenggelam, alhamdulilah gak jadi.

Sayangnya permainan airnya mahal-mahal. Naik scooter keliling saja tiketnya Rp 180.000. Kelemahan lain, kamar bilas jumlahnya terbatas, tidak sebanding dengan jumlah pengunjung, sehingga harus antri cukup lama.

Jam 17.00 kami sudah meninggalkan Treasure Bay menuju ke Tanjung Uban. Sampai Tanjung Uban jam 18.30. Ternyata antrian mobil yang mau menyeberang ke Batam masih sangat banyak dan kapal terakhir diberangkatkan jam 21.00. Mobil kami terjepit di dalam antrian. Bingung juga. Akhirnya diputuskan tetap antri dan kami menginap di mobil, yang ujung-ujungnya menginap digeser ke pos mudik lebaran. Antrian malam itu memang sangat banyak, mungkin karena lusa cuti bersama sudah selesai, sehingga banyak orang yang ingin pulang ke Batam.

Dimulailah petulangan menginap outdoor dengan fasilitas seadanya dan gantian jaga. Sebenarnya yang paling banyak jaga tetap aja si ayah ya. Kami berusaha membantunya semaksimal mungkin.

Akhirnya tibalah pagi, cari sarapan, malah dapat martabak. Enak martabaknya, tapi porsinya besar banget, sehingga kami bungkus sebagian, untuk cemilan. Habis makan, kami banyak bengongnya sih, main internet, baterei cepat sekali habis. Ngemil martabak, juga cepat banget habis. Lihat-lihat orang lalu lalang, diselingi bobok-bobok di dalam mobil. Alhamdulilah, sekitar jam 11, tibalah giliran kami naik kapal Roro.

Interior kapal roro di perjalanan pulang agak beda dengan kapal roro saat berangkat. Kapal roro saat pulang, dilengkapi dengan tempat tidur. Bagus juga sih, karena si ayah bisa tidur sejaman. Lumayan, demi keselamatan bersama. Alhamdulilah, perjalanan lancar.

Advertisements

Liburan ke Tiga Negara

Hari libur di akhir tahun ini sangat bagus posisinya. Empat hari berturut-turut menjelang natal dan tiga hari berturut-turut menjelang tahun baru.  Kami liburan di tiga negara di liburan saat libur empat hari menjelang hari natal.

Hari pertama : di Batam

Ada saudara yang mengunjungi kami sekaligus mau liburan bareng ke Singapura dan Malaysia. Ini menjadi trigger bagi kami untuk backpackeran di akhir tahun. Saudaraku terbang pagi-pagi dari Jakarta ke Batam. Kami jemput di bandara, dan dimulailah liburannya, dengan mengunjungi jembatan Barelang, mulai jembatan 1 s.d. jembatan 4. Setelah capek naik mobil, dilanjutkan makan siang di rumah makan di kawasan Batu Ampar. Ternyata saudaraku sudah ada rencana mau ketemuan juga dengan saudara yang sudah lama tinggal di Batam di daerah Jodoh. Tapi sulit sekali menghubungi yang bersangkutan, sehingga sambil menunggu, kami shalat dulu di masjil Jabal Arafah yang sangat cantik, dan juga naik ke tower masjid tersebut untuk melihat-lihat Batam dari ketinggian.

IMG_20171223_150713[1]

Untuk naik ke tower masjid tersebut kita menggunakan lift, dengan membayar infak sebesar Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 3000 untuk anak-anak. Sampai di puncak, ternyata fasilitas teropongnya sudah tidak ada lagi. Sayang sekali sih. Akhirnya kami menikmati suasana Batam di ketinggian tanpa teropong.

Setelah itu kami duduk-duduk di tepi kolam ikan sambil menyusun rencana untuk perjalanan besok pagi. Mengingat waktu yang terbatas, akhirnya ditetapkan 1 hari ke Singapura dan 2 hari ke Johor. Yang jadi pertanyaan butuh berapa dollar Singapura dan berapa Ringgit untuk liburan tersebut? Akhirnya kami buat perkiraan kasar kebutuhan kami, kemudian kami menukarkan rupiah ke dollar Singapura dan Ringgit di money changer yang ada di Nagoya. Kami juga membeli tiket ferry dari Batam ke Singapura di Money Changer tersebut.

Akhirnya saudara yang ingin dijumpai saudaraku, berhasil dihubungi. Bagusnya ketemuan di mana ya? Masak di jalan raya? Kami akhirnya ke Martabak Har yang letaknya tidak jauh dari money changer tempat kami berdiri. Kami cukup lama di sini, maklumlah namanya reuni, banyak yang diceritakan, jadi gak terasa waktu berlalu dengan cepat. Lagi pula makanan dan minumannya juga enak, ada prata, teh tarik, martabak, dan lain-lain. Rata-rata pengunjung lain juga lama nongkrongnya di sini, jadilah tempat ini ideal untuk tempat nongkrong.

Menjelang maghrib, kami memutuskan pulang, karena akan bersiap-siap untuk piknik besok pagi. Rencana malam ini sangat padat: check in ferry supaya terjamin besok langsung dapat kapal, terus mau packing baju, pesan hotel, dan cari-cari rute MRT. Selain itu ada saudara lain yang berkunjung, karena saudaraku itu cukup terkenal ya, banyak yang ingin silaturahmi.

Hari kedua : di Singapura dan Johor

Kami berhasil checkin untuk ferry jam 07.10. Jamnya sangat ideal, kayak jam berangkat sekolah. Kami dari rumah jam 06 pagi. Sampai pelabuhan Batam Centre paling 06.10. Di dalam pelabuhan kami sangat terkejut, menjumpai antrian mengular, di dalam pelabuhan. Benar-benar panjang, grogi juga, karena sudah terlanjur check in ferry jam 07.10. Beberapa kali kami tanyakan ke petugas, apakah kami bisa dapat prioritas dipermudah antriannya, jawabannya, tetap antri seperti yang lain. Wah, gak menyangka ya, antrian sepanjang ini. Aku baru kali ini mengalami antrian seperti ini. Rasanya sudah capek duluan. Akhirnya jam 07.10, kami sudah mulai memasuki antrian di dalam imigrasi. Kami sudah pasrah, dan punya plan, kalau ketinggalan kapal, akan meminta supaya naik di kapal berikutnya. Ternyata kapal belum berangkat dan masih sepi. Kemungkinan penumpang-penumpang yang lain juga masih terjebak di antrian panjang seperti yang kami alami.

IMG_20171224_073003[1]

Perjalanan ferry Batam-Singapura pagi ini sangat nyaman. Laut tenang tidak berombak, cuaca cerah, ferrynya kelihatan nyaman karena masih baru dan bersih. Saya dan anak sempat nongkrong di luar ferry merasakan bau laut yang menyegarkan.

Akhirnya kami sampai di Harbour Front. Antrian cukup panjang, tapi gak sepanjang antrian di Indonesia. Kami gantian masuk ke imigrasi. Cukup lama juga karena ada satu anggota rombongan yang diperiksanya lama sekali. Sudah berfikir macam-macam. Kami intip dari kejauhan juga tidak kelihatan orangnya. Akhirnya dia diijinkan juga masuk ke Singapura. Passpor dia memang masih baru, biasanya untuk passpor baru, pemeriksaannya lebih ketat.

Kami menggunakan MRT untuk perjalanan ini, sengaja mencari sarana transportasi yang agak berbeda dengan di Indonesia. Saya top up kartu MRT dan yang belum punya kartu membeli tiket standar. Tujuan selanjutnya ke Merlion Park

Merlion Park :

Kami turun di stasiun Raffles Place, mengikuti panduan di Internet yang sudah dicatat. Di luar stasiun Raffes Place suasana lebih menyenangkan. Ada view gedung-gedung tinggi, lapangan berumput, dan banyak hiasan-hiasan taman. Kami mencari rute pakai Google Map, akhirnya  ketemu Fullerton hotel. Kata blogger di internet, Marlion park ada di seberang jalan. Nah menyeberangnya di mana ya? Soalnya di depan hotel dikasih pagar pembatas. Akhirnya cari jembatan penyeberangan, walaupun harus jalan cukup jauh. Sampailah kami ke Merlion Park.

Di sini kami foto-foto dalam berbagai gaya, sambil ngelihat orang lain foto-foto. Ada gaya ambil air, gaya keramas, gaya cuci tangan…Terus dimintai tolong mbak-mbak untuk jadi tukang fotonya. Tapi mbaknya gak puas-puas ya dengan hasil fotoku, akhirnya dia pindah minta tolong difoto ama Nurul. Maaf ya mbak, saya kurang berbakat jadi fotografer. Untung dia segera puas dengan hasil foto Nurul, sehingga kami bisa fokus di pemotretan kami sendiri. Sebenarnya suasana di anjungan foto-foto di Merlion Park itu sangat ramai. Tapi orang-orang cenderung akmodatif dan mau berbagi dengan yang lain, sehingga bisa dihasilkan foto-foto tanpa background orang lain.

Jpeg

Jpeg

IMG_20171224_131230[1]

IMG_20171224_130318[1]

Di sini saudaraku juga ada janji ketemuan dengan temannya saat SMA dulu. Setelah menunggu beberapa saat,  datanglah ibu-ibu yang ditunggu. Saudaraku reunian dengan temannya, kami foto-foto, duduk-duduk di bawah pohon sambil ngemil dan beli es krim yang sangat mahal itu. Lumayan harganya, sekitar SG $6.4. Seharusnya sih bertanya dulu berapa harganya. Suasana memang sangat panas, sehingga rasanya lapar dan haus saja. Tiba-tiba muncullah serombongan tentara bersejata di sekeliling kami. Tentaranya sih ganteng-ganteng, cuma ngeri juga melihat senapan yang dibawanya, besar-besar.

Setelah puas di Merlion Park, kami balik ke stasiun Raffles Place. Ternyata ada zebra cross di dekat Merlion Park. Kami menyeberang ke jembatan juga. Cuaca tiba-tiba gerimis. Dan di belakang kami, para tentara yang kami jumpai di Merlion Park juga berjalan di belakang kami. Takut…serasa dikawal ama tentara.

Di kawasan ini ada banyak taman dan banyak hiasan-hiasan, cocok sekali untuk foto-foto.  Sebenarnya ini kunjungan ketiga ke Merlion Park. Di kunjungan pertama, rombongan dengan keluarga besar yang lain, tapi pakai travel. Tiba-tiba sudah sampai di patung Merlion, karena diantar dengan mobil travel.  Kunjungan kedua saat study tour dengan mahasiswa Poltek. Ini juga naik bis. Kedua kunjungan ada guidenya segala. Bahkan di kunjungan pertama, kami ditraktir saudara naik perahu mengelilingi kawasan Marina melewati sungai. Setelah puas foto-foto, kami lanjutkan ke tujuan selanjutnya yaitu Garden By the Bay.

IMG_20171224_133952[1]

 

Garden By the Bay :

Lokasinya tidak terlalu jauh dengan Merlion Park. Kami naik MRT lagi, turun ke stasiun Bayfront. Perut sudah mulai lapar, sehingga kami mampir makan dulu di food court di mall Marina Bay Sands. Mallnya keren banget, apalagi di saat natal seperti ini, dipenuhi dengan dekorasi yang sangat cantik. Terus di lantai dasar, ada semacam kanal buatan, orang-orang banyak yang naik perahu kecil menyusuri kanal.

Suasana food court sangat ramai, sangat kontras dengan suasana mall yang cenderung sepi. Kami pilih-pilih makanan, minuman, sambil cari-cari kursi yang kosong. Setelah beberapa saat akhirnya dapat juga tempat duduk yang diinginkan. Setelah makan, kami lanjut ke Garden By The Bay. Tempatnya luas sekali dan cocok untuk foto-foto. Kami segera beli tiket kereta yang keliling Garden By the Bay. Kami turun di pintu masuk dome-dome. Kalau masuk dome kita harus bayar lagi. Kami hanya melihat-lihat saja dari luar, karena waktu juga terbatas, sambil foto-foto di hiasan-hiasan yang ada di sana.

IMG_20171224_162122[1]

IMG_20171224_155600[1]

Pasar Bugis Street :

Target terakhir adalah ke pasar Bugis Street untuk membeli oleh-oleh. Gantungan kunci, tempelan di kulkas, tas, dompet, kaos, wah banyak sekali. Setelah muter-muter di pasar yang cukup luas itu, akhirnya terbelilah semua yang kami inginkan. Dari Bugis street ini, kami ke stasiun bis tujuan ke Johor. Namanya Queen Street Terminal. Letaknya tidak jauh dari Bugis Street. Kami bertanya ke beberapa orang sambil cek rute di Google Map. Harga tiket ke Johor sebesar SG $3.5 per orangnya. Bisnya cukup nyaman. Kami bisa melihat view suasana Singapura di atas tanah, setelah sebelumnya kami kebanyakan naik MRT.

Kami turun di Woodland untuk pengecekan petugas imigrasi keluar dari Singapura. Antrian tidak terlalu panjang. Setelah itu, kami naik bis lagi. Sekitar 5 menit naik bis, sampailah kami ke JB Sentral CIQ. Kepanjangannya Custom Immigration Quarantine. Di sini juga cepat pelayanannya. Setelah itu kami cari makanan di JB Sentral, makan ayam penyet. Rencananya kami mau naik taksi online dari sini. Ternyata agak susah menemukan titik ketemunya. Titik ketemu yang kami maksud berbeda dengan yang dimengerti oleh sopir taksi onlinenya. Jadinya lama tunggu-menunggu dan kami harus menyesuaikan dengan lokasi pertemuan yang dimaksud oleh sopir taksinya.

Kami menginap di hotel di sekitar JB Sentral. Sebenarnya kalau pakai Google Map, kami bisa jalan sekitar 15 menit. Cuma kami bingung menentukan arahnya. Kalau naik taksi juga sekitar 15 menit, karena jalannya rasanya jadi belok-belok ke sana kemari. Maklum banyak sekali jalan layangnya.

Hari ketiga : Legoland

Bangun pagi-pagi, kemudian beli sarapan nasi dagang, ama beberapa jenis gorengan. Sarapan rame-rame di kamar. Kami memesan tiket Legoland melalui Traveloka. Prosesnya cepat, setelah melakukan pembayaran dengan kartu kredit, tiket dikirim ke email. Praktis banget. Setelah itu kami pesan taksi online ke Legoland. Taksi juga datang dalam waktu singkat. Menjemput tamu di hotel memang lebih mudah daripada di tempat-tempat umum.

Di kawasan Legoland sudah banyak dibangun hotel, mall, tempat makan. Sudah jauh berbeda pada saat kami ke sana sekitar tahun 2013. Sudah lama juga ya gak ke sana. Kalau permainannya rata-rata hampir sama. Tetap saja menyenangkan, apalagi 4 tahun lalu sofia masih berumur 3 tahun, sehingga tidak banyak yang bisa dia coba, dan emak sofia jadinya lebih banyak jadi penonton. Kalau sekarang, dia sudah bisa naik di semua wahana yang kami kunjungi.

Kami malah terjebak antrian di wahana Lego Race, yang baru dibuka di bulan November 2017. Jadi antriannya lama sekali, karena banyak orang yang berminat di wahana ini. Ternyata naik roller coaster yang digabung virtual reality tidak memenakutkan dibandingkan roller coaster biasa. Untungnya wahana-wahana lain antriannya cukup cepat, sehingga kami masih bisa mencoba beberapa wahana yang lain.

Tak terasa, waktu menunjukkan jam 18.00, saatnya Legoland tutup. Persoalan lain ketika pulang. Kami mau pesan taksi online, ternyata biayanya sangat tinggi. Akhirnya kami naik taksi biasa yang ngetem di Legoland karena biayanya lebih murah. Dari Legoland kami ke mall JB City Square, untuk makan malam dan mencari oleh-oleh. Ternyata mallnya besar sekali dan bagus banget. Untungnya dapat juga dua buah tas untuk oleh-oleh. Kami makan laksa di food court di lantai 6. Kami juga memborong Milo yang katanya lebih enak dibandingkan Milo di Indonesia. Memang rasanya lebih pahit. Mungkin ini yang dibilang lebih enak itu.

Dari mall ini kami pesan taksi online, tapi gak ketemu ama sopirnya, sehingga akhirnya kami naik taksi. Suami menawar taksinya 8 ringgit, sopirnya maunya 10 ringgit. Akhirnya deal di 10 ringgit. Sopirnya menghidupkan argonya juga. Teryata di argo hanya kena charge 6 ringgit. Trus sopirnya ngotot biayanya hanya 6 ringgit. Bagus sekali ya sopirnya.

IMG_20171225_104331[1]

IMG_20171225_155156[1]

Hari keempat : Balik ke Batam

Kami memulai hari dengan berat, karena kecapekan. Sebenarnya kami kebanyakan jalan kaki 3 hari ke belakang ini. Untung aja Sofia sebegai peserta terkecil, kuat jalan kaki dan tidak mengeluh kecapekan, sehingga anggota keluarga yang lain juga merasa tertantang untuk kuat jalan kaki. Kami kemudian packing, menata semua baju kami berempat ke dalam koper seperti saat berangkat.  Saat di Singapura kemana-mana kami menyeret koper sedang. Untung saja kebanyakan tangga dilengkapi eskalator dan lift. Hanya sedikit sekali yang harus naik tangga. Koper dibawa oleh Nurul. Setiap orang bawa tas punggung kecil berisi makanan, minuman, ama jaket.

Setelah sarapan, kali ini menunya nasi ayam ama nasi goreng, kami pesan taksi ke Stulang Laut. Mall di Stulang Laut juga sudah direnovasi. Rasanya jadi lebih lebar. Kami beli tiket langsung. Untung saja antriannya normal saja. Kami naik ferry selama dua jam. Lama sekali ya. Sempat ketiduran segala dan makan pop mie.

Sampai ke Batam, kami lanjutkan dengan cari makan yang agak berbeda. Pilihan jatuh di soto kuali. Kemudian kami mengunjungi saudara, lanjut cari oleh-oleh makanan, berupa coklat, teh prenjak, ama makanan-makanan unik yang lain, dan mencari tas ama dompet di Nagoya. Saudaraku memang membutuhkan banyak oleh-oleh karena banyak orang yang mau diberi oleh-oleh.

 

 

 

Jalan-jalan ke Jepara

Di hari-hari menjelang kepulangan, ada ide jalan-jalan sekali lagi. Kali ini tujuannya ke Jepara. Ada yang pengin ke pantai Bandengan, tapi kami sudah pernah ke pantai tersebut, sehingga dicari alternatifnya, yaitu ke pantai Kartini. Kebetulan di sana ada gedung kura-kura, sehingga kami penasaran juga seperti apa sih gedung Kura-Kura itu. Kami menuju Jepara dari Pati. Kami melalui kebun karet. Dulu saat masih kecil juga pernah melewati kebun karet ini. Dalam hati, kok pohonnya tetap segitu-segitu saja ukurannya atau sudah diganti dengan pohon lain ya? Kami menempuh perjalanan sekitar dua jam.

Tiba di pantai Kartini, kami makan siang dulu. Sengaja bawa bekal. Hm…namanya juga piknik. Sesudah itu naik mobil wisata yang membawa kami ke gedung Kura-kura. Sebenarnya jalannya tidak terlalu jauh sih, sehingga pulangnya kami jalan kaki dari gedung Kura-kura ke parkiran, tentunya sambil lihat-lihat toko-toko suvenir. Anak-anak tidak tertarik dengan suvenir kerang-kerang dan baju-baju yang dijual. Ya sudahlah…saya malah hunting foto. Jualannya seru juga, ada topi warna-warni, hiasan kerang yang lucu-lucu. Oh ya, di gedung Kura-kura ada akuarium, hanya saja cuma sedikit. Yang menarik hanya akuarium yang ada di tengah-tengah, karena ada ikan hiu segala. Sebenarnya sih koleksinya cukup baik. Hanya saja, seminggu sebelumnya kami mengunjungi Batu Secret Zoo dengan segala koleksinya, sehingga ketika melihat koleksi di gedung Kura-kura, jadi jomplang perbandingannya.

 

 

Sovenir perahu

Sovenir perahu

Topi cantik

Topi cantik

Jalan-jalan ke Jolong

Jolong adalah agrowisata perkebunan kopi yang ada di gunung Muria. Kalau baca di web, agrowisata ini ada di kabupaten Pati. Ceritanya kami mengunjungi saudara di Pati, kemudian pulangnya mampir ke Jolong ini. Si sulung pernah diajak tantenya ke Jolong saat lebaran tahun 2016. Mereka naik motor berdua, gak mengajak mama dan si bungsu, sehingga kami penasaran seperti apa sih Jolong itu. Jalannya lumayan naik, beberapa ruas jalan ada yang rusak, dan kadang-kadang pas banget kalau dilalui dua mobil. Untung saja tidak ramai, kami jarang berpapasan dengan mobil lain.

Di sana kami tidak banyak eksplore, karena mengajak mamaku yang sudah tua ama si bungsu yang masih kecil. Kasihan kan kalau harus tracking ke air terjun. Pemandangannya memang cantik. Kami foto-foto pemandangan dari atas. Sesudah itu minum kopi. Ini juga sengaja beli kopi, karena si sulung ingin mengulang ceritanya saat lebaran dulu, minum kopi di Jolong. Kami juga beli kopi bubuknya. Rasa kopinya seperti rasa kopi saat aku masih kecil. Aku tebak kopi ini sudah dicampur dengan bahan-bahan lain, misalnya beras, kelapa, dll. Dulu saat masih SD sering disuruh bantuin nenek mengolah kopi, dari bijih kopi sampai dengan siap seduh. Bapak malah nostalgia dulu saat masih muda pernah mendaki gunung Muria yang kami lihat saat perjalanan ke Jolong. Emang senang ya bisa jalan-jalan sekeluarga.

Jolong view

Jolong view

 

 

Backpacker ke Batu(3)

Acara hari ini adalah wisata alam. Kami ingin merasakan petik apel. Yang banyak ditawarkan di web adalah agrokusuma. Harganya lumayan mahal, sehingga kami cari info lain. Jatuhlah pilihan di kebun apel yang berada di sebelah selecta. Per orang bayar 25 ribu. Akhirnya kami ke sana. Setelah bayar uang masuk, khusus dewasa saja, kami dapat jus apel, ama kantong kresek, untuk tempat apel yang kami petik yang mau kami bawa pulang. Di sana kami boleh makan apel sepuasnya. Akan tetapi, tempatnya repot juga karena berada di lereng bukit. Trus makan apel terus menerus juga bosan juga ya. Paling kami makan 4-5 buah saja. Apel yang saya petik juga tidak banyak, karena tampaknya buahnya memang tinggal sedikit yang ukurannya lumayan. Hanya setengah kilo saja, akhirnya saya beli tambahan setengah kilo saja di petugasnya. Sambil nongkrong-nongkrong, kami malah beli bakso malang, yang ini rasanya enak. Tidak seperti bakso tadi malam.

Tempat petik apel ini letaknya benar-benar di sebelah selecta. Dulu pas SD saya pernah diajak orang tua ke Selecta. Jadi pengin tahu seperti apa ya tempat wisata kenangan tersebut. Ternyata sudah banyak berubah, maklum sudah puluhan tahun yang lalu. Di selecta bayarnya Rp 30.000 beda tipis ama tempat petik apel. Di sana ada kebun bunga, kolam renang, permainan air(bebek-bebekan), naik kuda, Flying fox, dll. Si bungsu dan si sulung pilih naik kuda. Bayar Rp 10.000. Antrinya bentar, tapi naiknya memang sebentar. Si bungsu masih pengin naik kuda lagi, sehingga dia naik kedua kembali. Pakai acara mewek segala, gara-gara mamanya gak mengabulkan permintaan naik kuda kedua kalinya. Akhirnya dikabulkan deh. Kami beli cemilan juga. Kemudian naik bebek-bebekan. Only saya dan si bungsu. Ternyata susah juga ya mengendalikan bebek-bebekan. Baru main 15 menit, sudah rasanya lama sekali.

Sekitar jam 13.00 kami cabut, melanjutkan perjalanan ke Malang. Kami mau beli oleh-oleh strudel Malang. Harganya lumayan mahal. Semula kami mengira isinya lumayan besar, tapi ternyata mini sekali. Jadi bengkak deh anggaran beli oleh-oleh, padahal ketika oleh-oleh dibagikan, rata-rata hanya dapat 1 bungkus kripik apel saja. Hm..tahu begitu, sebaiknya dibelikan kripik apel semua ya.

Di sebelah counter Strudel Malang, ada rumah makan Padang. Jadilalah kami makan siang di sana. Agak gak nyambung sih, ke Malang malah makan nasi Padang. Sesudah makan, kami lanjut perjalanan ke arah Surabaya. Jalanan lancar, dengan saingan kendaraan adalah truk-truk besar dan bis. Kami menikmati perjalanannya. Dari Surabaya melewati Gresik. Mulai turun hujan lebat di Gresik. Jalanan kecil, karena sudah keluar dari tol. Mobil jalan pelan-pelan karena jalanan rapat dan hujan juga sangat deras. Hujan turun sekitar 2 jam. Itupun rasanya tidak berhenti-henti. Cuaca kembali cerah saat kami memasuki kota Lamongan. Kami cari makan di pinggir jalan. Ada yang kepingin makan mie ayam. Akhirnya berhenti di warung mie ayam dan nasi goreng. Rasa nasi gorengnya lumayan. Cuma agak bingung, kok nasinya berwarna merah ya. Trus irisan ayamnya tipis banget, seperti kertas. Penasaran gimana cara mengirisnya ya. Si bungsu alhamdulilah mau makan nasi gorengnya, sehingga setelah makan malam, dia tertidur sampai di tujuan.

selecta

selecta

Naik kuda

Naik kuda

Backpacker ke Batu (2)

Di hari kedua, kami terbangun, setelah mendengar kicau burung. Ceila. Namanya juga di Batu. Cuaca sangat sejuk. Anak-anak masih malas-malasan tidak mau meninggalkan selimut yang hangat. Jadi agak saya paksa juga untuk shalat subuh sebentar. Habis shalat lanjut bobok lagi. Mungkin tubuh mereka mengirim sinyal, ini kan liburan, ngapain juga buru-buru bangun. Kami mulai start sarapan jam 07.00 pagi. Itupun si bungsu masih gak mau bangun, akhirnya dia kami tinggal di kamar, sementara kami sarapan di homestay. Salah satu fasilitasnya adalah sarapan. Sudah disedikan satu lauk, satu sayur, nasi, jus, teh/kopi/air hangat, dan susu. Memang tidak seperti hotel bintang empat yang sarapannya beraneka ragam. Tapi sudah cukup empat sehat lima sempurna kan. Saya dan si sulung makan santai di ruang makan. Kami kemudian minta ijin bawakan sarapan untuk si bungsu ke kamar. Ternyata dia sudah bangun. Akhirnya kami makan di teras depan kamar. Si bungsu menyukai menunya, terbukti dia ingin mengulang menu yang sama di hari berikutnya.

Sambil sarapan, adik dan keluarganya datang menjemput. Kami nongkrong-nongkrong di teras, karena tujuan wisata hari ini, Jatim Park 2, jaraknya tidak terlalu jauh, dan baru buka jam 10 pagi. Setelah selasai sarapan, mandi, kami siap berangkat sekitar jam 9 lebih. Memang dekat dari BNS. Cari-cari parkir, kemudian antri tiket. Saya salah antri tiket. Saya mau pakai boarding pass Citilink, sehingga harus di kantor Informasi beli tiketnya, tidak bisa beli tiket di counter yang biasa. Gak apa-apa deh, demi diskon 20%.

Kami beli paket Jatim Park 2 terdiri dari Museum Margasatwa dan Batu Secret Zoo. Sambil menunggu tempat wisata dibuka, kami santai-santai dulu sambil foto-foto di pelatarannya yang asyik. Pas jam 10, kami mulai masuk ke museum satwa. Agak lama juga di sini, karena si bungsu semangat foto2 objek yang ada di kaca dan juga baca informasi-informasi yang ada di tembok. Si sulung dan emaknya agak bosan juga, karena dia terlalu lambat nih. Beda orang beda pemikiran. Baru tiga orang saja sudah beda keinginan. Tapi karena dia masih kecil, tidak mungkin juga ditinggal sendiri. Itu juga yang menyebabkan rombongan keluargaku dan keluarga adik jalannya terpisah. Alhamdulilah kami bisa berkoordinasi pakai hand phone.

Sesudah itu, acara kami kanjutkan ke Batu Secret Zoo. Benar cerita-cerita yang saya baca di blog, kalau di Zoo ini memang lebih menarik. Kami melihat binatang yang sangat beraneka ragam, aneh-anah jenisnya. Trus anak-anak senang sekali foto-foto dengan binatang yang bisa dipegang tanpa pembatas apapun, walaupun harus bayar Rp 5000 ekstra. Mereka foto dengan burung, musang, ular, kuda poni. Trus sekali naik gajah, hampir naik unta juga. Setelah dipikir-pikir gak jadi. Selain itu kami juga nonton pertunjukan anjing laut. Wah kalau di Batam, kalau sedang ada pertunjukkan anjing laut, per orang aja bayarnya sekitar 30-40 ribuan.

Kami melewati bagian savana di afrika, di mana jalannya agak naik. Lumayan capek sih. Untung masih kuat dan si bungsu tidak minta gendong. Dia saat di gerbang malas-malasan, tapi semakin masuk ke Zoo, semkin semangat lho. Di daerah yang menanjak naik ada penyewaan sepeda listrik juga. Kami melewati wahana  permainan. Kami tertahan cukup lama di sini, karena si sulung dan si bungsu betah berlama-lama di sini. Kami sebetulnya punya rencana sesudah dari Jatim Park 2 mau ke museum angkot. Karena anak-anak tidak mau beranjak dari wahana permainan, akhirnya adik sekeluarga duluan ke museum angkot, dan kami tetap stand by di Jatim Park 2. Sebenarnya ada beberapa counter makan di sana, tapi kami memilih makan Pop Mie juga. Rencana beli Pop Mie untuk ganjal perut, tapi karena keasyikan main, akhirnya kami gak jadi makan berat, tapi diganti ama makanan ringan, seperti Siomay ama jus. Si bungsu mau mencoba keberuntungan di permainan ketangkasan. Hanya saja sistem permainannnya berbeda. Yach gak dapat boneka deh.

Kami ikut tur melihat wahana 5 benua, trus yang sangat seru ikutan Safari Farm. Saat antri, tiba-tiba ada tawaran tiga orang bisa duluan. Aku dengar pengumuman itu dan langsung deh keluar dari antrian. Safari farm sangat seru, karena binatangnya mendekat ke kereta yang kami naiki. Kami juga bisa kasih makan. Karena antri gak sampai ujung, kami gak beli wortel, makanan favorit binatang tsb. Si bungsu ddikasih wortel oleh penumpang lainnya, walaupun dia juga takut saat kasih makan ke binatangnya. Binatangnya responsif sekali dengan yang namanya wortel. Lihat wortel langsung dia nengok dan mendekat ke si pembawa wortel. Lumayan ngeri juga untuk si bungsu. Saya enggan juga didekati dengan keadaan seperti itu.

Setelah itu kami ke Baby Zoo. Si bungsu sengaja beli wortel. Dia kasih makan anak-anak hewan. Ada kambil, kelinci, keledai. Lagi-lagi kami tertahan di sini, karena si bungsu senang sekali dengan sekelompok anak kelinci. Dia gak mau jalan. Maunya di sana saja. Setelah cukup lama, kami shalat, habis shalat dia pengin ke tempat baby zoo lagi. Lumayan wasting time. Tapi gimana lagi.

Kami kemudian lewat taman mainan anak-anak, si bungsu juga tertarik main di sini. Sampai hari mulai gelap. Dari sini kami berencana pulang. Sambil jalan ke arah pintu keluar, kami beli jamu. Harganya lumayan mahal, sekitar 15 ribu, tapi rasanya mantap sekali. Bisa menghangatkan tubuhku yang mulai masuk angin. Ternyata masih ada wahana air dan harimau. Dua-duanya kelihatan seru. Hanya saja terpaksa kami skip, karena sudah capek dan sudah mendekati pukul 18.00, di mana wahana tersebut akan tutup.

Di pelataran, lagi-lagi si sulung tertarik beli kaos. Hobby banget ya beli kaos. Saat beli-beli kaos, adik telpon menawarkan jemputan. Kami janjian di pintu masuk Jatim Park 2 supaya adik gak usah bayar parkir lagi. Ternyata pas sekali. Begitu  kami sampai di pintu masuk, mobilnya datang.

Sesudah mandi, kami makan malam. Kami pilih makan nasi goreng yang dijual di depan home stay. Ternyata si bungsu tidak tahan dengan rasa nasi goreng yang agak pedas, sehingga kami terpaksa cari makanan lain untuk dia. Sesudah istirahat, saya rapikan barang-barang di koper, untuk persiapan besok. Kami mau check out besok pagi.

 

Foto dengan ular

Foto dengan ular

Naik gajah

Naik gajah

Backpacker ke Batu (1)

Si sulung sudah mengenal back packer dan sudah siap mental juga untuk travelling ala-ala back packer. Ketika saya kemukakan rencana mau back packer di akhir tahun 2016, dia menyambut gembira. Setelah mendapat ijin dari suami, saya, si sulung, dan si bungsu hunting tiket ke arah Malang. Ternyata harga tiket Batam-Malang jauh lebih mahal dibanding Batam-Surabaya. Mengingat jumlah personel yang lumayan banyak, kami beli tiket Batam-Surabaya. Ternyata di tanggal yang sama, adik saya dan keluarganya juga ada rencana piknik ke Batu. Dia mau menjemput kami sekalian di bandara Juanda sebelum ke Batu. Kami beruntung banget ya, karena travelling rame-rame sekeluarga tentunya lebih menyenangkan dan mengurangi tanggung jawab yang harus saya jalankan, misalnya cari-cari travel. Sebenarnya untuk berangkat di tanggal 21 Desember ini agak ribet juga, karena masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Memang pekerjaan tidak akan ada habisnya. Alhamdulilah atasan mau kasih cuti, TU mau bantu geser jadwal mengajar dan mengawas ujian, koordinator TA juga mau bantu geser jadwal ujian TA. Alhamdulilah.

Pesawat dijadwalkan berangkat dari Batam jam 09.50. Kami dari rumah jam 06.30 karena mau nebeng mobil suami ke bandara, sementara dia jam 08.00 harus sampai kantor juga. Demi hemat uang taksi 100.000, no problemlah sejam dua jam nongkrong di ruang tunggu bandara. Asal adem saja. Benar juga ruang tunggu masih lengang, tapi tak berapa lama sudah ramai juga. Banyak ibu-ibu yang mau jalan-jalan sama anak-anaknya. Ternyata model kami, di mana bapak-bapaknya tidak ikut travelling banyak juga ya. Kirain cuma kami sekeluarga juga.

Pesawat berangkat before time, karena jam 09.30 kami sudah diminta naik pesawat. Cuaca sangat cerah juga. Kami akan menempuh penerbangan dua jam. Adik sekeluarga juga sedang dalam perjalanan, mareka sudah sampai di Gresik. Dua jam ternyata lama juga ya. Pertama-tama lihat pulau Batam dan kepulauan Riau yang semakin lama semakin hilang berganti dengan awan putih, kemudian baca-baca majalah, makan bekal makanan, yang anak-anak masih merasa lapar juga, sehingga mereka minta dibelikan pop mie yang harganya lumayan di pesawat. Untungnya mereka mau sharing satu berdua. Aktifitas lainnya adalah gantian ketiduran di pesawat. Perut kenyang, suasana adem memang membuat kita terlelap. Akhirnya sampailah kami di bandara Juanda. Ternyata adik sudah menunggu di pintu kedatangan. Kami sempatkan beli roti O untuk bekal di jalan, makan siang, dan shalat dulu.

Kami menuju ke arah Malang. Adik tidak familiar juga dengan Sidoarjo ini, untung ada Google map, ada si sulung yang sudah pandai baca peta di Google map, dan mengandalkan tanya-tanya orang jika ada kebingungan. Kebanyakan kami melalui jalan tol.

Ternyata bandara Juanda ke Malang jauh juga ya. Kami dari Bandara sekitar jam 13.00, sampai ke Malang sudah agak sore, sekitar jam 16.00. Kemudian lanjut ke Batu. Perjalanan alhamdulilah lancar ya, cuma memang jauh sih. Mungkin karena hari Rabu dan belum waktunya peak session ya.

Saya sudah memesan kamar di sebuah homestay melalui airbnb.com di batu. Ternyata lokasinya benar-benar di depan BNS(Batu Night Spectaculer). Saya sudah kontak hostnya kalau akan datang malam hari. Sampai di homestay, saya telpon host, kemudian dia kasih kunci. Alhamdulilah kamarnya luas sekali, tempat tidurnya juga King, sehingga cukuplah untuk kami bertiga. Saya tidak mengira kamarnya akan selapang itu. Berdasarkan pengalaman menginap di hotel yang spacenya sangat terbatas ya. Disediakan juga peralatan mandi, air mineral, kopi, teh seperti di iklannya.

Sesudah bersih-bersih, kami lanjutkan acara cari makan malam. Ada sederetan tenda makan di depan BNS, kami makan soto dan bakso. Di hari pertama ini rasanya cukup enak, harganya juga sesuai yang sudah tertera. Hanya saja, di malam kedua, kami makan bakso masih di deretan tempat makan tersebut, penjualnya lain, rasanya tidak karuan. Si bungsu langsung menolak baksonya. Saya cobain ternyata tidak enak juga. Kemungkinan karena sudah lama tidak laku, jadi rasanya gak karuan. Ya sudahlah, akhirnya Sofia kami belikan roti.

Sesudah makan, kami ke BNS. Semangat banget ya…Si sulung beli tiket terusan, saya dan si bungsu beli tiket masuk saja. Si bungu pengin main beberapa permainan di sana. Ternyata di jual juga tiket per permainan. Keputusan saya beli tiket eceran tepat juga, karena untuk anak usia 6 tahun permainannya terbatas juga. Untuk si sulung yang SMP, permainannya sangat banyak, hanya saja, dia juga tidak maksimal mencoba seluruh permainan, mengingat sudah capai dan pusing karena naik wahana tersebut. Oh ya, si bungsu malah dapat hadiah boneka setelah main di arena ketangkasan.

Setelah 3 jam di sana kami memutuskan pulang. Sepanjang pintu keluar, di area food court ternyata banyak sekali penjual kaos, sandal, suvenir. Mayoritas sih jualan kaos. Si sulung beli kaos seharga 55 ribu, si bungsu beli sandal 10 ribu. Di kios-kios di luar BNS, saya beli kripik apel dan nangka.

 

BNS

BNS

Permainan ketangkasan

Permainan ketangkasan