Liburan ke Tiga Negara

Hari libur di akhir tahun ini sangat bagus posisinya. Empat hari berturut-turut menjelang natal dan tiga hari berturut-turut menjelang tahun baru.  Kami liburan di tiga negara di liburan saat libur empat hari menjelang hari natal.

Hari pertama : di Batam

Ada saudara yang mengunjungi kami sekaligus mau liburan bareng ke Singapura dan Malaysia. Ini menjadi trigger bagi kami untuk backpackeran di akhir tahun. Saudaraku terbang pagi-pagi dari Jakarta ke Batam. Kami jemput di bandara, dan dimulailah liburannya, dengan mengunjungi jembatan Barelang, mulai jembatan 1 s.d. jembatan 4. Setelah capek naik mobil, dilanjutkan makan siang di rumah makan di kawasan Batu Ampar. Ternyata saudaraku sudah ada rencana mau ketemuan juga dengan saudara yang sudah lama tinggal di Batam di daerah Jodoh. Tapi sulit sekali menghubungi yang bersangkutan, sehingga sambil menunggu, kami shalat dulu di masjil Jabal Arafah yang sangat cantik, dan juga naik ke tower masjid tersebut untuk melihat-lihat Batam dari ketinggian.

IMG_20171223_150713[1]

Untuk naik ke tower masjid tersebut kita menggunakan lift, dengan membayar infak sebesar Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 3000 untuk anak-anak. Sampai di puncak, ternyata fasilitas teropongnya sudah tidak ada lagi. Sayang sekali sih. Akhirnya kami menikmati suasana Batam di ketinggian tanpa teropong.

Setelah itu kami duduk-duduk di tepi kolam ikan sambil menyusun rencana untuk perjalanan besok pagi. Mengingat waktu yang terbatas, akhirnya ditetapkan 1 hari ke Singapura dan 2 hari ke Johor. Yang jadi pertanyaan butuh berapa dollar Singapura dan berapa Ringgit untuk liburan tersebut? Akhirnya kami buat perkiraan kasar kebutuhan kami, kemudian kami menukarkan rupiah ke dollar Singapura dan Ringgit di money changer yang ada di Nagoya. Kami juga membeli tiket ferry dari Batam ke Singapura di Money Changer tersebut.

Akhirnya saudara yang ingin dijumpai saudaraku, berhasil dihubungi. Bagusnya ketemuan di mana ya? Masak di jalan raya? Kami akhirnya ke Martabak Har yang letaknya tidak jauh dari money changer tempat kami berdiri. Kami cukup lama di sini, maklumlah namanya reuni, banyak yang diceritakan, jadi gak terasa waktu berlalu dengan cepat. Lagi pula makanan dan minumannya juga enak, ada prata, teh tarik, martabak, dan lain-lain. Rata-rata pengunjung lain juga lama nongkrongnya di sini, jadilah tempat ini ideal untuk tempat nongkrong.

Menjelang maghrib, kami memutuskan pulang, karena akan bersiap-siap untuk piknik besok pagi. Rencana malam ini sangat padat: check in ferry supaya terjamin besok langsung dapat kapal, terus mau packing baju, pesan hotel, dan cari-cari rute MRT. Selain itu ada saudara lain yang berkunjung, karena saudaraku itu cukup terkenal ya, banyak yang ingin silaturahmi.

Hari kedua : di Singapura dan Johor

Kami berhasil checkin untuk ferry jam 07.10. Jamnya sangat ideal, kayak jam berangkat sekolah. Kami dari rumah jam 06 pagi. Sampai pelabuhan Batam Centre paling 06.10. Di dalam pelabuhan kami sangat terkejut, menjumpai antrian mengular, di dalam pelabuhan. Benar-benar panjang, grogi juga, karena sudah terlanjur check in ferry jam 07.10. Beberapa kali kami tanyakan ke petugas, apakah kami bisa dapat prioritas dipermudah antriannya, jawabannya, tetap antri seperti yang lain. Wah, gak menyangka ya, antrian sepanjang ini. Aku baru kali ini mengalami antrian seperti ini. Rasanya sudah capek duluan. Akhirnya jam 07.10, kami sudah mulai memasuki antrian di dalam imigrasi. Kami sudah pasrah, dan punya plan, kalau ketinggalan kapal, akan meminta supaya naik di kapal berikutnya. Ternyata kapal belum berangkat dan masih sepi. Kemungkinan penumpang-penumpang yang lain juga masih terjebak di antrian panjang seperti yang kami alami.

IMG_20171224_073003[1]

Perjalanan ferry Batam-Singapura pagi ini sangat nyaman. Laut tenang tidak berombak, cuaca cerah, ferrynya kelihatan nyaman karena masih baru dan bersih. Saya dan anak sempat nongkrong di luar ferry merasakan bau laut yang menyegarkan.

Akhirnya kami sampai di Harbour Front. Antrian cukup panjang, tapi gak sepanjang antrian di Indonesia. Kami gantian masuk ke imigrasi. Cukup lama juga karena ada satu anggota rombongan yang diperiksanya lama sekali. Sudah berfikir macam-macam. Kami intip dari kejauhan juga tidak kelihatan orangnya. Akhirnya dia diijinkan juga masuk ke Singapura. Passpor dia memang masih baru, biasanya untuk passpor baru, pemeriksaannya lebih ketat.

Kami menggunakan MRT untuk perjalanan ini, sengaja mencari sarana transportasi yang agak berbeda dengan di Indonesia. Saya top up kartu MRT dan yang belum punya kartu membeli tiket standar. Tujuan selanjutnya ke Merlion Park

Merlion Park :

Kami turun di stasiun Raffles Place, mengikuti panduan di Internet yang sudah dicatat. Di luar stasiun Raffes Place suasana lebih menyenangkan. Ada view gedung-gedung tinggi, lapangan berumput, dan banyak hiasan-hiasan taman. Kami mencari rute pakai Google Map, akhirnya  ketemu Fullerton hotel. Kata blogger di internet, Marlion park ada di seberang jalan. Nah menyeberangnya di mana ya? Soalnya di depan hotel dikasih pagar pembatas. Akhirnya cari jembatan penyeberangan, walaupun harus jalan cukup jauh. Sampailah kami ke Merlion Park.

Di sini kami foto-foto dalam berbagai gaya, sambil ngelihat orang lain foto-foto. Ada gaya ambil air, gaya keramas, gaya cuci tangan…Terus dimintai tolong mbak-mbak untuk jadi tukang fotonya. Tapi mbaknya gak puas-puas ya dengan hasil fotoku, akhirnya dia pindah minta tolong difoto ama Nurul. Maaf ya mbak, saya kurang berbakat jadi fotografer. Untung dia segera puas dengan hasil foto Nurul, sehingga kami bisa fokus di pemotretan kami sendiri. Sebenarnya suasana di anjungan foto-foto di Merlion Park itu sangat ramai. Tapi orang-orang cenderung akmodatif dan mau berbagi dengan yang lain, sehingga bisa dihasilkan foto-foto tanpa background orang lain.

Jpeg

Jpeg

IMG_20171224_131230[1]

IMG_20171224_130318[1]

Di sini saudaraku juga ada janji ketemuan dengan temannya saat SMA dulu. Setelah menunggu beberapa saat,  datanglah ibu-ibu yang ditunggu. Saudaraku reunian dengan temannya, kami foto-foto, duduk-duduk di bawah pohon sambil ngemil dan beli es krim yang sangat mahal itu. Lumayan harganya, sekitar SG $6.4. Seharusnya sih bertanya dulu berapa harganya. Suasana memang sangat panas, sehingga rasanya lapar dan haus saja. Tiba-tiba muncullah serombongan tentara bersejata di sekeliling kami. Tentaranya sih ganteng-ganteng, cuma ngeri juga melihat senapan yang dibawanya, besar-besar.

Setelah puas di Merlion Park, kami balik ke stasiun Raffles Place. Ternyata ada zebra cross di dekat Merlion Park. Kami menyeberang ke jembatan juga. Cuaca tiba-tiba gerimis. Dan di belakang kami, para tentara yang kami jumpai di Merlion Park juga berjalan di belakang kami. Takut…serasa dikawal ama tentara.

Di kawasan ini ada banyak taman dan banyak hiasan-hiasan, cocok sekali untuk foto-foto.  Sebenarnya ini kunjungan ketiga ke Merlion Park. Di kunjungan pertama, rombongan dengan keluarga besar yang lain, tapi pakai travel. Tiba-tiba sudah sampai di patung Merlion, karena diantar dengan mobil travel.  Kunjungan kedua saat study tour dengan mahasiswa Poltek. Ini juga naik bis. Kedua kunjungan ada guidenya segala. Bahkan di kunjungan pertama, kami ditraktir saudara naik perahu mengelilingi kawasan Marina melewati sungai. Setelah puas foto-foto, kami lanjutkan ke tujuan selanjutnya yaitu Garden By the Bay.

IMG_20171224_133952[1]

 

Garden By the Bay :

Lokasinya tidak terlalu jauh dengan Merlion Park. Kami naik MRT lagi, turun ke stasiun Bayfront. Perut sudah mulai lapar, sehingga kami mampir makan dulu di food court di mall Marina Bay Sands. Mallnya keren banget, apalagi di saat natal seperti ini, dipenuhi dengan dekorasi yang sangat cantik. Terus di lantai dasar, ada semacam kanal buatan, orang-orang banyak yang naik perahu kecil menyusuri kanal.

Suasana food court sangat ramai, sangat kontras dengan suasana mall yang cenderung sepi. Kami pilih-pilih makanan, minuman, sambil cari-cari kursi yang kosong. Setelah beberapa saat akhirnya dapat juga tempat duduk yang diinginkan. Setelah makan, kami lanjut ke Garden By The Bay. Tempatnya luas sekali dan cocok untuk foto-foto. Kami segera beli tiket kereta yang keliling Garden By the Bay. Kami turun di pintu masuk dome-dome. Kalau masuk dome kita harus bayar lagi. Kami hanya melihat-lihat saja dari luar, karena waktu juga terbatas, sambil foto-foto di hiasan-hiasan yang ada di sana.

IMG_20171224_162122[1]

IMG_20171224_155600[1]

Pasar Bugis Street :

Target terakhir adalah ke pasar Bugis Street untuk membeli oleh-oleh. Gantungan kunci, tempelan di kulkas, tas, dompet, kaos, wah banyak sekali. Setelah muter-muter di pasar yang cukup luas itu, akhirnya terbelilah semua yang kami inginkan. Dari Bugis street ini, kami ke stasiun bis tujuan ke Johor. Namanya Queen Street Terminal. Letaknya tidak jauh dari Bugis Street. Kami bertanya ke beberapa orang sambil cek rute di Google Map. Harga tiket ke Johor sebesar SG $3.5 per orangnya. Bisnya cukup nyaman. Kami bisa melihat view suasana Singapura di atas tanah, setelah sebelumnya kami kebanyakan naik MRT.

Kami turun di Woodland untuk pengecekan petugas imigrasi keluar dari Singapura. Antrian tidak terlalu panjang. Setelah itu, kami naik bis lagi. Sekitar 5 menit naik bis, sampailah kami ke JB Sentral CIQ. Kepanjangannya Custom Immigration Quarantine. Di sini juga cepat pelayanannya. Setelah itu kami cari makanan di JB Sentral, makan ayam penyet. Rencananya kami mau naik taksi online dari sini. Ternyata agak susah menemukan titik ketemunya. Titik ketemu yang kami maksud berbeda dengan yang dimengerti oleh sopir taksi onlinenya. Jadinya lama tunggu-menunggu dan kami harus menyesuaikan dengan lokasi pertemuan yang dimaksud oleh sopir taksinya.

Kami menginap di hotel di sekitar JB Sentral. Sebenarnya kalau pakai Google Map, kami bisa jalan sekitar 15 menit. Cuma kami bingung menentukan arahnya. Kalau naik taksi juga sekitar 15 menit, karena jalannya rasanya jadi belok-belok ke sana kemari. Maklum banyak sekali jalan layangnya.

Hari ketiga : Legoland

Bangun pagi-pagi, kemudian beli sarapan nasi dagang, ama beberapa jenis gorengan. Sarapan rame-rame di kamar. Kami memesan tiket Legoland melalui Traveloka. Prosesnya cepat, setelah melakukan pembayaran dengan kartu kredit, tiket dikirim ke email. Praktis banget. Setelah itu kami pesan taksi online ke Legoland. Taksi juga datang dalam waktu singkat. Menjemput tamu di hotel memang lebih mudah daripada di tempat-tempat umum.

Di kawasan Legoland sudah banyak dibangun hotel, mall, tempat makan. Sudah jauh berbeda pada saat kami ke sana sekitar tahun 2013. Sudah lama juga ya gak ke sana. Kalau permainannya rata-rata hampir sama. Tetap saja menyenangkan, apalagi 4 tahun lalu sofia masih berumur 3 tahun, sehingga tidak banyak yang bisa dia coba, dan emak sofia jadinya lebih banyak jadi penonton. Kalau sekarang, dia sudah bisa naik di semua wahana yang kami kunjungi.

Kami malah terjebak antrian di wahana Lego Race, yang baru dibuka di bulan November 2017. Jadi antriannya lama sekali, karena banyak orang yang berminat di wahana ini. Ternyata naik roller coaster yang digabung virtual reality tidak memenakutkan dibandingkan roller coaster biasa. Untungnya wahana-wahana lain antriannya cukup cepat, sehingga kami masih bisa mencoba beberapa wahana yang lain.

Tak terasa, waktu menunjukkan jam 18.00, saatnya Legoland tutup. Persoalan lain ketika pulang. Kami mau pesan taksi online, ternyata biayanya sangat tinggi. Akhirnya kami naik taksi biasa yang ngetem di Legoland karena biayanya lebih murah. Dari Legoland kami ke mall JB City Square, untuk makan malam dan mencari oleh-oleh. Ternyata mallnya besar sekali dan bagus banget. Untungnya dapat juga dua buah tas untuk oleh-oleh. Kami makan laksa di food court di lantai 6. Kami juga memborong Milo yang katanya lebih enak dibandingkan Milo di Indonesia. Memang rasanya lebih pahit. Mungkin ini yang dibilang lebih enak itu.

Dari mall ini kami pesan taksi online, tapi gak ketemu ama sopirnya, sehingga akhirnya kami naik taksi. Suami menawar taksinya 8 ringgit, sopirnya maunya 10 ringgit. Akhirnya deal di 10 ringgit. Sopirnya menghidupkan argonya juga. Teryata di argo hanya kena charge 6 ringgit. Trus sopirnya ngotot biayanya hanya 6 ringgit. Bagus sekali ya sopirnya.

IMG_20171225_104331[1]

IMG_20171225_155156[1]

Hari keempat : Balik ke Batam

Kami memulai hari dengan berat, karena kecapekan. Sebenarnya kami kebanyakan jalan kaki 3 hari ke belakang ini. Untung aja Sofia sebegai peserta terkecil, kuat jalan kaki dan tidak mengeluh kecapekan, sehingga anggota keluarga yang lain juga merasa tertantang untuk kuat jalan kaki. Kami kemudian packing, menata semua baju kami berempat ke dalam koper seperti saat berangkat.  Saat di Singapura kemana-mana kami menyeret koper sedang. Untung saja kebanyakan tangga dilengkapi eskalator dan lift. Hanya sedikit sekali yang harus naik tangga. Koper dibawa oleh Nurul. Setiap orang bawa tas punggung kecil berisi makanan, minuman, ama jaket.

Setelah sarapan, kali ini menunya nasi ayam ama nasi goreng, kami pesan taksi ke Stulang Laut. Mall di Stulang Laut juga sudah direnovasi. Rasanya jadi lebih lebar. Kami beli tiket langsung. Untung saja antriannya normal saja. Kami naik ferry selama dua jam. Lama sekali ya. Sempat ketiduran segala dan makan pop mie.

Sampai ke Batam, kami lanjutkan dengan cari makan yang agak berbeda. Pilihan jatuh di soto kuali. Kemudian kami mengunjungi saudara, lanjut cari oleh-oleh makanan, berupa coklat, teh prenjak, ama makanan-makanan unik yang lain, dan mencari tas ama dompet di Nagoya. Saudaraku memang membutuhkan banyak oleh-oleh karena banyak orang yang mau diberi oleh-oleh.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s