Backpacker ke Bangkok (1)

Perjalanan kami mulai pagi-pagi sekali, karena kami akan naik ferry pertama dari pelabuhan internasional Batam ke Singapura. Kami sudah siap-siap koper dari semalam. Kami diantar ayah. Teryata teman-teman serombongan sudah datang juga di pelabuhan. Setelah pamitan, kami mulai masuk ke imigrasi. Pagi itu sangat ramai juga. maklum akhir tahun. Di ferry, kami tidak mendapat tempat duduk yang bisa bareng-bareng, sehingga kami berpencar. Saya dan si bungsu malah hanya dapat satu tempat duduk, sehingga si bungsu saya pangku dan selebihnya dia jalan-jalan di lorong. Si sulung duduk bareng ama teman.

Di Harbour Front, antrian juga sudah cukup banyak. Kemungkinan kami kapal kedua yang di Harbour Front, sehingga antrian tidak terlalu lama. Kami bisa masuk ke Singapura dengan lancar. Selanjutnya kami mencari taksi. Rombongan kami cukup banyak, sehingga kami naik dua taksi menuju ke airport Changi. Di Changi, kami segera check in, kemudian beli makanan. Kami memilih makan laksa dan teh tarik. Cukup lama juga kami makan. Sesudah makan, kami menuju ke terminal keberangkatan. Airport Changi ini sangat megah. Di kiri kanan banyak dijumpai toko-toko yang menjual pakaian, pernak-pernik, makanan, dan lain-lain. Sesudah itu kami melewati imigrasi keluar. Ternyata untuk menuju ke terminal satu lagi, kami harus naik kereta, semacam MRT, tapi hanya satu gerbong saja. Dan ternyata terminalnya itu masih jauh, padahal waktu boarding sudah sebentar lagi. Kami serombongan jadi panik, sampai lari-lari. Alhamdulilah kami masih ditunggu. kemungkinan karena jumlah rombongan kami cukup banyak, sekitar 6 orang ya.

Sebelum naik pesawat, ada pemeriksanaan. Kami tidak boleh membawa makanan dan minuman apapun, ditambah kami sudah terlambat, sehingga kami belum mengisi botol dengan air apapun. Nah, saat naik pesawat, kami hanya mendapat aqua kecil dan snack. Jadinya kami kelaparan dan terutama kehausan menempuh perjalanan yang cukup jauh itu. Saya lupa apakah tidak ada yang jualan makanan minuman di pesawat atau saya yang lagi pelit, sehingga saya sangat kehausan.

Kami tiba di bandara Don Muang Bangkok. Disambut cuaca yang sangat terik. Di bandara ini berbeda dengan Changi yang sangat sejuk, di sini panas sekali. Beda negara memang beda selera ya. Kami kemudian siap-siap antri di imigrasi dan berhasil masuk ke Thailand dengan lancar.

Kami kemudian naik bis sampai ke terminal kereta terdekat. Di stasiun kereta itu ada eskalator, sehingga koper bisa dinaikkan dengan mudah. Kami kemudian belajar cara membeli tiket kereta api. Agak repot karena harus memakai uang pecahan 100 koin bath. Di kemudian hari, kami membeli kartu isi ulang, sehingga lebih mudah dan praktis.

Apartemen rombongan berada di dua tempat yang terpisah, sehingga di stasiun Siam rombongan pecah jadi dua. Rombongan kami melanjutkan naik kereta lainnya sampai ke stasiun terdekat ke apartemen. Persoalan dimulai di sini, kami tidak tahu, di mana kami naik bis. Sudah dicari-cari tapi tidak ketemu, akhirnya kami memutuskan naik taksi. Persoalannya, saya sekeluarga bawa dua koper. Trus dari stasiun kereta ke jalan raya harus turun melewati tangga yang cukup tinggi. Oh no…mau tidak mau, saya harus mengangkat koper melewati tangga tersebut. Capek banget, ditambah cuaca Bangkok yang sangat panas. Saat naik taksi, sopir taksi juga kesulitan menangkap maksud kami. Akhirnya saya serahkan alamat apartemen yang akan kami tempati yang kebetulan ada no telponnya. Sopir taksi menelpon nomor tersebut, menanyakan di mana letak apartemennya.

Benar-benar pengalaman yang melelahkan. Sebenarnya host apartemen sudah menyarankan dari bandara langsung saja naik taksi, tapi tidak kami ikuti. Saya juga tidak ikuti beli kartu perdana yang bisa internet, sehingga jadi repot berhubungan dengan host.

Di apartemen, kami menanyakan ke petugasnya. Kami dibantu oleh satpam di sana untuk menelpon host. Ternyata hostnya tidak bisa menemui kami, tapi dia sudah menyimpan kunci di loker di apartemen tersebut. Hm…efisien juga ya.

Kami akhirnya sampai di apartemen yang kami sewa. Apartemennya cukup kecil tapi bagus banget. Jauh berbeda dengan apartemen tempat tinggal kami. Viewnya adalah kolam renang. Udara sejuk semilir, sehingga tanpa pakai AC juga sudah sejuk sekali.

Di apartemen tersebut ada TV dua buah, ada WIFI gratis(ini sangat penting), ada kulkas, ada peralatan memasak termasuk kompor. Ini juga sangat penting, mengingat ternyata mencari makanan halal di Bangkok tidak mudah juga. Tidak ada mesin cuci, walaupun sebenarnya ada mesin cuci koin di lingkungan apartemen, tapi kami lebih memilih cuci baju sendiri. Hemat. Ada lemari, setrika, dan disediakan juga makanan, air, detergen, obat pel, obat cuci piring, sabun, dan handuk. Paket lengkap ya.

Sesudah mandi dan ngemil, kami akhirnya memilih mencari makanan keluar. Setelah jalan cukup jauh, kami tidak juga menemukan tempat makan. Kami akhirnya menemukan tempat makan, tapi ketika ditanya apakah halal, petugas restoran tidak mengerti apa yang kami tanyakan. Ya sudahlah. Untung saja di kompleks apartemen itu ada 7eleven, sehingga kami beli bahan makanan beras, telur, sarden di sana, kemudian memasak makanan di apartemen. Yang paling seru adalah memasak nasi, karena host tidak menyediakan rice cooker. Jadi kami masak dengan cara meliwet. Jadilah nasi liwet ala-ala Bangkok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s