Ketidaknyamanan

Salah satu point menarik dari pidato pak Direktur kemarin adalah mengingatkan kepada semua karyawan, agak tidak terjebak dalam kenyamanan. Misalnya, karena sudah nyaman hidup di rumah tangga, di Batam yang nyaman, jadi terasa berat untuk meninggalkan Batam untuk melanjutkan sekolah. Para dosen diharapkan melanjutkan kuliah ke luar negeri, ke universitas yang kuliatasnya lebih baik dari level sebelumnya.
Benar juga sih pidatonya. Baru mikir mo ke luar negeri, ke mana gitu, karena belum tahu tujuannya sudah bingung gak jelas. Gimana dengan Nurul. Apa ditinggal saja, atau diajak saja. Sophie gimana? Aku sudah nanya apa Nurul apa dia kepengin ikutan keluar negeri? Ternyata dia pengin dan mau belajar bahasa Inggris. Senang mendengarnya. Suami juga mau diajak keluar negeri, dengan preferensi Australia, dengan harapan mudah mencari kerja di sana. Sudah makin terbayang mau ke mana…

Selain ketidaknyamanan karena harus sekolah, manajemen juga mengadakan rotasi pekerjaan. Ini ketidaknyamanan kedua, dan harus dilaksanakan dengan segera, tanpa mikir panjang. Gara-gara terlalu nyaman dengan posisi lama, beberapa pekerjaan tidak dilaksanakan dengan benar. Benar juga sih, orang butuh tantangan baru. Aku juga mengalami rotasi pekerjaan itu. Pindah ke lantai yang lebih tinggi. Hm, bisa sekalian membersihkan loker dari dokumen-dokumen yang tidak terpakai. Yang membuat semangat, pekerjaan baru ini akan banyak waktu untuk penelitian. Asyik…

Bulan Juni ini memang banyak ketidaknyamanan yang terjadi. Dimulai akhir Mei lalu, ketika suami kerja keluar kota. Kaget juga….dan merasa gentar. Sempat membujuknya juga agar membatalkan keinginannya. Lama-lama terbiasa juga sih. Jadi single parent, ngatur urusan-urusan sendiri dan membuat keputusan sendiri. Nganter Nurul sekolah, belanja ke pasar, ngajak jalan-jalan Sophie dan Nurul, nemenin main Sophie, nemenin Nurul main, dan lain-lain. Jam terbang naik motor semakin tinggi, karena baru itu yang dikuasai.
Nurul menjadi lebih care dengan keluarga kecil ini. Buktinya mau diajak ke pasar, walaupun dia sepertinya masih belum terbiasa dengan bau ikan di pasar, dia juga mau nungguin adiknya walaupun hanya sebentar. Kalau dipikir-pikir ada suami, kami memang banyak dimanjakan, dan baru terasa kalau sudah jauh gini. Perubahan yang menimbulkan ketidaknyamanan, insya allah akan menimbulkan manfaat, jika diterima dengan ikhlas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s