Ke Denpasar yuk

Aku pernah ke Bali, tapi sudah lama banget, pada saat kelas 2 SMA. Sudah puluhan tahun yang lalu ya. Kesempatan ke Bali datang begitu saja. Ada undangan training di Bali, dan aku ditugaskan mengikutinya.

Berangkat dari rumah jam 08.00, buru2 banget, karena pesawat berangkat jam 9. Nekat banget. Mana jalanan menuju bandara ternyata penuh banget. Belum kategori macet sih. Tapi pagi tadi banyak sekali karyawan-karyawan di daerah Kabil yang sedang menuju tempat kerjanya.

Untung masih diterima cek in-nya. Pas nunggu-nunggu di ruang tunggu, malah ada yang negur. Ternyata Denny Boy, alumni Poltek. Wah seneng banget ada yang mau negur kayak gitu. Walaupun sudah alumni, tapi masih ingat ama dosennya. Walaupun tidak pernah ngajar Mas Denny juga…Jadinya cerita-cerita deh…

Pesawat berangkat on time, bahkan sebelum jam 9.00 sudah boarding. Perjalanan berjalan lancar. Oh ya…dua kursi di sebelahku ada seorang ibu muda, bawa baby 9 bulan. Baby-nya tuh rewel banget. Kasihan banget deh beliaunya. Kayaknya kebingungan gitu. Segala cara sudah dicoba, tetap aja rewel. Mungkin baby-nya ngerasa gak nyaman, atau gimana. Bingung juga aku. Untung banget pas Sophie travelling bulan agustus ama sep lalu, dianya enjoy banget. Pas berangkat, malah bobok sepanjang batam-jakarta. Pas pulangnya, pas pesawat lagi landing, malah ngotot minta turun. Dia kayaknya malas dipangku gitu. Mau main di bawah. Akhirnya nangis deh. Ketika pesawat sudah stabil di atas, permintaannya kuturuti, senang banget deh…Bahkan mau ngabisin rotinya segala. Jadi gak kerasa deh perjalanan 1.5 jam, kalau baby gak rewel.

Back to journey. Akhirnya sampai juga bandara Juanda Suarabaya. Bandaranya bagus juga. Kayaknya lebih besar dibanding Hang Nadim, Batam. Dari lantai 2 turun, melapor di counter L**n di lantai 1. Habis itu disuruh langsung ke ruang tunggu di lantai 2. Ternyata gak ada eskalator naik. Ajaib juga counter transfernya. Napa juga gak di lantai 2 sekalian. Biar gak bolak-balik gini. Jadi ngebayangin, kalau bawaan banyak gimana nih?

Di ruang tunggu, sudah banyak turis asing yang nongkrong di sana. Ada turis, sptnya sih dari Thailand . Ada juga turis dari Eropa. Jadi teringat kalau Bali itu daerah wisata. Ke Bali naik Wing, pesawatnya kecil banget, pakai baling-baling 2 buah. Yang unik no kurisnya AC dan DF. Jadi kursi B ama E tuh tidak ada. Lucu banget…

Sampai Bali, celingak-celinguk cari taksi, dapat juga. Langsung deh meluncur ke penginapan. Taksi lewat Kuta. Jadi tahu deh, Kuta itu spt apa. Penginapannya sudah dibooking pakai internet, namanya hotel Pop Harris. Proses bookingnya lancar. Sampai sana juga tidak ada kendala yang berarti. Yang baru diketahui, ternyata uang penginapan harus dibayar di muka. Baru tahu juga. Biasanya kan di belakang. Gak apa-apa deh…Gimana lagi. Untung aja bawa uang.

Penginapannnya sesuai yang diiklankan. Gayanya minimalis, dengan warna-warna yang cerah: hijau, kuning, oranye. Serasa muda lagi…Ada Wifi gratis juga. Fasilitasnya sesuai yang dijanjikan. Sesuai hargalah.Versi ekonomis. Kayaknya sih gak kalah ama hotel berbintang lainnya, misalnya Novotel ama Planet Holiday(pernah mengunjungi saudara yang nginep di sana). Bedanya gak ada kolam renang, sarapan gak prasmanan, yang bisa milih2 beraneka menu. Hanya nasi jinggo aja.Cuma yang kubutuhkan sudah terpenuhi. Misalnya Wifi gratis.

Kulihat di Novotel ama Planet Holiday, akses internetnya bayar loh. Bahkan pas menginap di Singapura, hotel bintang juga, gak dikasih internet gratis. Kalau boleh bandingin, hotel Pop ini mirip dengan hotel-hotel bisnis di Jepang. Gayanya minimalis, dengan fasilitas minimalis, tapi cocok untuk perjalanan bisnis. Yang lebih seru dengan hotel di Jepang, disediakan mesin cuci, mesin pengering. Dalam hal ini ada yang ngasih gratis, ada yang bayar. Terus ada faslitas microwave, setrika, sepeda, yang dipinjamkan gratis ke pengunjung.

Lain negara, lain budaya ya. Kalau ngelihat harga, hotel-hotel di Bali ini banyak hotel-hotel asyik yang harganya murah, mirip dengan Batam. Kalau di Singapura, wah mahal-mahal banget.

Tanya ke petugas hotel, tempat makan mana yang halal. Harganya gak ada yang murah, mahal-mahal. Tapi porsinya banyak banget, dan ternyata rasanya enak banget. Buatku setengah porsi sdh cukup sebenarnya. Siap-siap gendut deh….

Habis itu aku coba menelusuri jalan Teuku Umar. Ceritanya mo nyari odol, karena gak disediakan ama hotel. Di sepanjang jalan itu, banyak hotel, ada fave hotel, four seasoning hotel, dll. Banyak juga tempat makan, tapi mesti teliti, dan nanya-nanya, mana yang halal. Sampai akhirnya ketemu Hero dan Gunung Agung. Akhirnya beli-beli  barang yang dibutuhkan di sana, terus cabut pulang, karena hari sudah gelap.  Harga barang di Hero itu kok lebih mahal ya dibanding harga di Batam. Karena Hero-nya atau karena Bali-nya ya?

Ini foto dengan peserta training lainnya

bali

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s