Bersepeda Yuk…

main sepeda

Di kompleks kami, anak-anak sedang hoby main sepeda. Pagi-pagi sekitar jam 05.30, sudah turun 2 anak tetangga. Mendengar laju sepeda dan juga obrolan di halaman, Uun juga menjadi bersemangat bangun pagi, dan ikut bergabung dengan mereka. Tak berapa lama kemudian, muncul beberapa anak yang lain, bergabung bermain sepeda. Mereka bersepeda berkeliling kompleks, bahkan terkadang sampai ke kampus.

Selain bersepeda di pagi hari, mereka juga bersepeda pada saat sore hari. Sekitar jam 17.30 Uun dan kawan-kawan pulang mengaji. Mereka tidak langsung pulang, tetapi mengambil sepeda, dan main sampai maghrib. Aduh senengnya main sepeda.

Trend main sepeda di kompleks ini baru di kalangan anak-anak saja. Untuk yang lebih tua belum ada. Saya pernah berniat beli sepeda, tetapi harganya mahal. Jadi niat mau olahraga bersepeda, akhirnya diganti dengan olahraga yang lebih murah, yaitu jogging dan main basket.

Pada saat training di Jepang bulan Agustus yang lalu, saya sempat beberapa kali main sepeda. Dua hotel tempat kami menginap, yaitu di Kurosaki dan di Saga, keduanya menyediakan sepeda untuk para tamu. Gratis, tidak disewakan. Jadi pada waktu pagi, sekitar jam 06.00, kami sarapan atau minum teh, kemudian naik sepeda, mengeksplorasi wilayah di sekeliling hotel. Tidak lama, sekitar satu jam saja. Mengaksyikkan sekali, karena wilayah eksplorasi lebih luas, sehingga pemandangan yang dilihat bisa lebih banyak.

Di sana tersedia trotoar untuk para pengendara sepeda dan pejalan kaki, hampir di semua ruas jalan. Trotoarnya cukup luas, ada sekitar 1 meter. Saya perhatikan, banyak penduduk Jepang yang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi. Ada bapak-bapak yang mau berangkat ke kantor, pelajar dan mahasiswa. Di stasiun, di kantor, di depan mall, banyak dijumpai sepeda dalam jumlah besar sedang diparkir di sana.

Ongkos naik kendaraan umum di Jepang beberapa kali lipat di Indonesia. Karena mahalnya tarif kendaraan itu menyebabkan sepeda merupakan salah satu pilihan yang tepat. Bahkan biaya pertama naik
taksi adalah 600 yen setara dengan 60.000 rupih. Bandingkan dengan biaya pertama taksi blue bird yang hanya Rp 6.000. Kalau di Singapura, biaya pertama, sekitar SG$3, sekitar Rp 18.000.

Di Batam, bersepeda mulai berkembang menjadi olahraga dan hobi. Terkadang di hari Minggu saya melihat sekelompok orang sedang olahraga bersepeda bersama. Beberapa kali saya melihat ada acara Fun Bike yang diadakan oleh lembaga tertentu.

Pengalaman saya pada waktu kecil, mulai dari SD sampai SMA, ke mana-mana selalu bersepeda. Sepeda pada waktu itu harganya relatif murah. Sekolah jaraknya jauh dari rumah, sehingga untuk pergi ke sekolah, saya selalu naik sepeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s