Perempuan berkalung sorban

perempuan-berkalung

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Apalagi kalo gak film yang seru, film yang cerdas dan gak picisan : “Perempuan berkalung sorban”. Setelah sekian lama menantikan kapan bisa menontonnya, akhirnya kesampaian juga nonton di Nagoya Hill. Awal mula aku tertarik karena lagu soundtrack yang dinyanyikan Siti Nurhaliza, yang sangat hebat dan meresap ke dalam hati.

Film ini berkisah tentang seorang perempuan yang selalu dikalahkan. Di dalam keluarga inti, di lingkungannya, di suatu pesantren yang menjunjung tinggi laki-laki. Dia bahkan menjadi korban dari kekejaman laki-laki.

Pada akhirnya dia bisa keluar dari masalahnya dengan tegar, bahkan membantu perempuan yang senasib dengannya untuk keluar dari masalah mereka.

Film yang hebat, skenario hebat, sutradara hebat, pemain yang hebat, sound track yang hebat pula. Sebuah kisah yang inspiratif,tentang bagaimana seorang perempuan harus bersikap, dan juga bagaimana seharusnya laki-laki memperlakukan perempuan. Saya kagum sekali dengan sosok Khudhori. Alhamdulilah, mendapat pendamping seperti itu. Suatu anugerah yang tiada tara dari Allah SWT. Seharusnya, jika semua laki-laki seperti Khudhori, maka amanlah dunia. Mengapa di dunia tidak semua laki-laki seperti Khudori? Seperti halnya manusia itu sendiri, ada yang baik, ada yang busuk.

Mengapa laki-laki merasa superior? Banyak ahli tafsir/alim ulama yang mendudukkan laki-laki lebih baik daripada perempuan. Ajaran Islam sering ditafsirkan seperti itu. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai ketidakadilan. Misalnya masalah tunjangan. Laki-laki mendapat tunjangan keluarga, tunjangan kesehatan untuk keluarganya, perempuan tidak. Padahal beban kerjanya sama saja. Ini suatu tantangan untuk memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Balik lagi ke film, saya sebenarnya kurang setuju dengan setting Pesantren dan penonjolan buku-buku Pramudya. Buku-buku Pram memang bagus, tapi kan gak harus ditonjolkan sedemikian rupa? Mengapa memilih pesantren? Apakah semua pesantren kolot seperti pesantren di film? Rasanya  gak juga…

Setelah menonton film ini, saya ingin menjadi Annisa. Berbuat untuk perempuan yang nasibnya tertindas, baik di keluarga, maupun di lingkungannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s